Jadi Komandan Batalion Perempuan ISIS, Mama Muda Diciduk FBI
Minggu, 30 Januari 2022 - 09:31 WIB
Saksi yang sama juga mengatakan kepada FBI bahwa Fluke-Ekren pada tahun 2014 memiliki rencana untuk menyerang sebuah perguruan tinggi di AS menggunakan ransel berisi bahan peledak. Jaksa tidak mengungkapkan perguruan tinggi mana yang ingin dia tuju.
Pengaduan pidana mengatakan rencananya disampaikan kepada Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin Negara Islam pada saat itu, yang menyetujui pendanaan untuk itu. Saksi mengatakan serangan itu ditunda setelah Fluke-Ekren mengetahui bahwa dia tengah hamil. Fluke-Ekren memiliki banyak anak, tetapi tidak diketahui berapa banyak.
Jaksa mengatakan Fluke-Ekren kemudian pindah ke Mesir pada tahun 2008, tinggal di sana selama sekitar tiga tahun dan kemudian melakukan perjalanan ke Libya, di mana dia tinggal selama sekitar satu tahun sebelum menyelinap ke Suriah.
Menurut seorang saksi, Fluke-Ekren meninggalkan Libya karena organisasi teroris lain, Ansar al-Sharia, tidak lagi melakukan serangan di negara itu dan dia ingin melakukan jihad kekerasan.
Baca juga: Aparat Maroko Tangkap 25 Tersangka Terorisme Terkait ISIS
Dalam memonya yang berargumen untuk menahan Fluke-Ekren di balik jeruji besi sementara dia menunggu persidangan, Parekh mengatakan bahwa perempuan itu telah menjadi orang yang sangat percaya pada ideologi teroris radikal ISIS selama bertahun-tahun. Jaksa mengatakan pemerintah memiliki banyak saksi yang siap untuk bersaksi melawannya.
Menurut memo penahanan, walikota kota Raqqa, Suriah, yang memproklamirkan diri sebagai Ibu Kota Negara Islam, menyetujui pembukaan batalion militer yang semuanya perempuan. Fluke-Ekren, kata penyelidik, segera menjadi pemimpinnya.
Saksi mata mengatakan Fluke-Ekren mengajar kelas untuk anggota batalion, dan pada satu kesempatan, seorang anak kecilnya terlihat memegang senapan mesin.
Pengaduan pidana mengatakan rencananya disampaikan kepada Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin Negara Islam pada saat itu, yang menyetujui pendanaan untuk itu. Saksi mengatakan serangan itu ditunda setelah Fluke-Ekren mengetahui bahwa dia tengah hamil. Fluke-Ekren memiliki banyak anak, tetapi tidak diketahui berapa banyak.
Jaksa mengatakan Fluke-Ekren kemudian pindah ke Mesir pada tahun 2008, tinggal di sana selama sekitar tiga tahun dan kemudian melakukan perjalanan ke Libya, di mana dia tinggal selama sekitar satu tahun sebelum menyelinap ke Suriah.
Menurut seorang saksi, Fluke-Ekren meninggalkan Libya karena organisasi teroris lain, Ansar al-Sharia, tidak lagi melakukan serangan di negara itu dan dia ingin melakukan jihad kekerasan.
Baca juga: Aparat Maroko Tangkap 25 Tersangka Terorisme Terkait ISIS
Dalam memonya yang berargumen untuk menahan Fluke-Ekren di balik jeruji besi sementara dia menunggu persidangan, Parekh mengatakan bahwa perempuan itu telah menjadi orang yang sangat percaya pada ideologi teroris radikal ISIS selama bertahun-tahun. Jaksa mengatakan pemerintah memiliki banyak saksi yang siap untuk bersaksi melawannya.
Menurut memo penahanan, walikota kota Raqqa, Suriah, yang memproklamirkan diri sebagai Ibu Kota Negara Islam, menyetujui pembukaan batalion militer yang semuanya perempuan. Fluke-Ekren, kata penyelidik, segera menjadi pemimpinnya.
Saksi mata mengatakan Fluke-Ekren mengajar kelas untuk anggota batalion, dan pada satu kesempatan, seorang anak kecilnya terlihat memegang senapan mesin.
Lihat Juga :