Uji Coba Rudal Hipersonik Berkemampuan Nuklir, China Kejutkan AS

Minggu, 17 Oktober 2021 - 07:16 WIB
Dua orang yang mengetahui tes China mengatakan senjata itu, secara teori, bisa terbang di atas Kutub Selatan. Itu akan menjadi tantangan besar bagi militer AS karena sistem pertahanan misilnya difokuskan pada rute kutub utara.

Sementara itu seorang pejabat keamanan nasional Asia mengatakan militer China melakukan tes pada bulan Agustus. China umumnya mengumumkan peluncuran roket Long March - jenis yang digunakan untuk meluncurkan kendaraan luncur hipersonik ke orbit - tetapi secara mencolok menyembunyikan peluncuran Agustus lalu.

Pejabat keamanan, dan pakar keamanan China lainnya yang dekat dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), mengatakan senjata itu sedang dikembangkan oleh Akademi Aerodinamika Dirgantara China (CAAA). CAAA adalah lembaga penelitian di bawah China Aerospace Science and Technology Corporation, perusahaan milik negara utama yang membuat sistem rudal dan roket untuk program luar angkasa China. Kedua sumber mengatakan kendaraan luncur hipersonik diluncurkan dengan roket Long March, yang digunakan untuk program luar angkasa.

Akademi Teknologi Kendaraan Peluncuran China, yang mengawasi peluncuran, pada 19 Juli mengatakan di akun media sosial resminya bahwa mereka telah meluncurkan roket Long March 2C, yang ditambahkannya sebagai peluncuran ke-77 dari roket itu. Pada 24 Agustus, diumumkan bahwa mereka telah melakukan penerbangan ke-79. Tetapi tidak ada pengumuman peluncuran ke-78, yang memicu spekulasi di kalangan pengamat program luar angkasa tentang peluncuran rahasia. CAAA tidak menanggapi permintaan komentar.

Baca juga: AS Tak Terima Disebut Kalah dalam Pertempuran AI dengan China

Pengungkapan itu muncul ketika pemerintahan Biden melakukan Tinjauan Postur Nuklir, sebuah analisis kebijakan dan kemampuan yang diamanatkan oleh Kongres yang telah memicu perdebatan antara pendukung pengendalian senjata dengan mereka yang percaya bahwa AS harus berbuat lebih banyak untuk memodernisasi persenjataan nuklirnya karena China.

Pentagon sendiri tidak mengomentari laporan itu tetapi menyatakan keprihatinan tentang China.

“Kami telah memperjelas kekhawatiran kami tentang kemampuan militer yang terus dikejar China, kemampuan yang hanya meningkatkan ketegangan di kawasan dan sekitarnya,” kata juru bicara Pentagon John Kirby.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!