Kisruh Kapal Selam Prancis-Australia Bikin Sekutu AS Terpecah
Selasa, 21 September 2021 - 22:16 WIB
“Kami tidak dapat secara eksklusif mengandalkan orang lain tetapi harus bekerja sama, dan kami harus mengatasi perbedaan kami (di dalam UE) dan berbicara dengan satu suara,” katanya kepada wartawan di Brussels.
“Kepercayaan yang hilang harus dibangun kembali, dan itu jelas tidak akan mudah. Tapi kami ingin memberikan kontribusi yang konstruktif (untuk prosesnya),” imbuhnya seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (21/9/2021).
Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut perlakuan terhadap Prancis tidak dapat terima dan menekankan bahwa ada pertanyaan yang perlu dijawab sebelum negara-negara Barat dapat kembali ke “bisnis seperti biasa.”
"Kami adalah teman dan sekutu, dan teman dan sekutu berbicara satu sama lain…tentang masalah kepentingan bersama. Ini jelas tidak terjadi," ujarnya.
Baca juga: Australia Mengaku Ragu dengan Kemampuan Kapal Selam Buatan Prancis
Sebelumnya, Prancis menyerukan solidarita UE setelah Australia membatalkan kontrak senilai USD40 miliar untuk kapal selam tempur demi kapal selam bertenaga nuklir buatan AS.
“Kepercayaan yang hilang harus dibangun kembali, dan itu jelas tidak akan mudah. Tapi kami ingin memberikan kontribusi yang konstruktif (untuk prosesnya),” imbuhnya seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (21/9/2021).
Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut perlakuan terhadap Prancis tidak dapat terima dan menekankan bahwa ada pertanyaan yang perlu dijawab sebelum negara-negara Barat dapat kembali ke “bisnis seperti biasa.”
"Kami adalah teman dan sekutu, dan teman dan sekutu berbicara satu sama lain…tentang masalah kepentingan bersama. Ini jelas tidak terjadi," ujarnya.
Baca juga: Australia Mengaku Ragu dengan Kemampuan Kapal Selam Buatan Prancis
Sebelumnya, Prancis menyerukan solidarita UE setelah Australia membatalkan kontrak senilai USD40 miliar untuk kapal selam tempur demi kapal selam bertenaga nuklir buatan AS.
Lihat Juga :