Kembali ke Jalur Persaingan, China dan Barat Kian Menjauh
Selasa, 13 April 2021 - 05:30 WIB
Hal itu telah membuka jurang antara Beijing dan Barat, yang semakin dijelaskan dalam istilah ideologis, tetapi dibingkai oleh ketakutan yang lebih besar akan persaingan atas teknologi, perdagangan, dan pertahanan.
"Kitz sedang menuju tatanan bipolar dan Perang Dingin baru antara 'orang baik' dan 'orang jahat'," kata Jean-Pierre Cabestan, profesor ilmu politik di Universitas Baptis Hong Kong.
Baca: Perang Kognitif, Kapal Perang AS Kuntit Kapal Induk China
Biden mendambakan sekutu untuk mengimbangi kebangkitan China, perubahan dari tindakan sepihak dan perang perdagangan di era Donald Trump, dengan HAM dan demokrasi muncul sebagai penyebab utama bagi blok anti-Beijing yang baru.
"Ada persatuan suci baru demokrasi pada (masalah) Xinjiang, Hong Kong dan HAM di China," kata Cabestan.
Di sisi lain, menurut Bonnie Glaser, Penasihat Senior untuk Asia di Pusat Kajian Strategis dan Internasional Washington (CSIS), China meneken kerjasama dengan Iran, untuk menunjukan bahwa mereka tidak sendirian.
"Kitz sedang menuju tatanan bipolar dan Perang Dingin baru antara 'orang baik' dan 'orang jahat'," kata Jean-Pierre Cabestan, profesor ilmu politik di Universitas Baptis Hong Kong.
Baca: Perang Kognitif, Kapal Perang AS Kuntit Kapal Induk China
Biden mendambakan sekutu untuk mengimbangi kebangkitan China, perubahan dari tindakan sepihak dan perang perdagangan di era Donald Trump, dengan HAM dan demokrasi muncul sebagai penyebab utama bagi blok anti-Beijing yang baru.
"Ada persatuan suci baru demokrasi pada (masalah) Xinjiang, Hong Kong dan HAM di China," kata Cabestan.
Di sisi lain, menurut Bonnie Glaser, Penasihat Senior untuk Asia di Pusat Kajian Strategis dan Internasional Washington (CSIS), China meneken kerjasama dengan Iran, untuk menunjukan bahwa mereka tidak sendirian.
Lihat Juga :