Afghanistan Minta Indonesia Jadi Fasilitator Pertemuan Ulama se-Asia
Kamis, 24 Desember 2020 - 12:54 WIB
“Saya tidak pernah ragukan keikhlasannya Pak JK karena saya sendiri sudah kenal baik. Makanya ketika bapak mau datang saya bersyukur sekali karena ternyata bapak tidak pernah membiarkan kami jalan sendiri sekarang,” ungkapnya.
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PMI Pusat, Hamid Awaludin yang turut serta dalam rombongan JK mengungkapkan kesepahaman antar faksi di Afghanistan akan mudah tercapai karena tidak ada pembicaraan mengenai perubahan konstitusi. Semua faksi menyepakati pemerintahan Islam hanya model pelaksanaannya saja yang berbeda karena terkait pemahaman terhadap hukum Islam itu sendiri. Namun ia optimistis dengan adanya pertemuan ulama se-Asia dan ulama Afganistan serta Taliban, perdamaian segera menemui titik terang.
Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat, KH Muhyidin Junaidi yang juga turut serta dalam pertemuan tersebut menambahkan, ulama Afghanistan sangat tertarik dengan kehidupan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Mereka menilai toleransi Indonesia sangat bagus.
Muhyidin menjelaskan bahwa sejarah toleransi di Indonesia sudah sangat panjang. Sebelum Islam masuk, Hindu dan Budha sudah terlebih dahulu menyebar di Nusantara. Kemudian islam masuk dengan pendekatan budaya budaya lokal sehingga diterima masyarakat. Dalam perkembangannya Islam di Indonesia kemudian kita kenal Islam jalan tengah atau Islam Wasathiyah.
Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PMI Pusat, Hamid Awaludin yang turut serta dalam rombongan JK mengungkapkan kesepahaman antar faksi di Afghanistan akan mudah tercapai karena tidak ada pembicaraan mengenai perubahan konstitusi. Semua faksi menyepakati pemerintahan Islam hanya model pelaksanaannya saja yang berbeda karena terkait pemahaman terhadap hukum Islam itu sendiri. Namun ia optimistis dengan adanya pertemuan ulama se-Asia dan ulama Afganistan serta Taliban, perdamaian segera menemui titik terang.
Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat, KH Muhyidin Junaidi yang juga turut serta dalam pertemuan tersebut menambahkan, ulama Afghanistan sangat tertarik dengan kehidupan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Mereka menilai toleransi Indonesia sangat bagus.
Muhyidin menjelaskan bahwa sejarah toleransi di Indonesia sudah sangat panjang. Sebelum Islam masuk, Hindu dan Budha sudah terlebih dahulu menyebar di Nusantara. Kemudian islam masuk dengan pendekatan budaya budaya lokal sehingga diterima masyarakat. Dalam perkembangannya Islam di Indonesia kemudian kita kenal Islam jalan tengah atau Islam Wasathiyah.
(poe)
Lihat Juga :