Profil Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Sosok di Balik Lompatan Qatar dari Negara Gurun Menjadi Raksasa Kaya Dunia
Kamis, 16 Juli 2026 - 11:17 WIB
Mantan emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani meninggal dunia pada hari Minggu. Dialah sosok yang mengubah Qatar dari negara gurun menjadi salah satu negara terkaya di dunia. Foto/Anadolu
DOHA - Nama Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani kembali menjadi sorotan dunia setelah wafat hari Minggu pada usia 74 tahun. Bagi sebagian orang, dia dikenal sebagai mantan Emir Qatar. Namun di mata rakyatnya, Hamad adalah sosok yang mengubah sebuah negara kecil di kawasan Teluk menjadi salah satu negara paling kaya, paling berpengaruh, sekaligus paling disegani di panggung internasional.
Saat Hamad mengambil alih kekuasaan pada 1995, Qatar belum memiliki pengaruh sebesar negara-negara tetangganya di Timur Tengah. Pendapatan negara memang berasal dari minyak dan gas, tetapi potensi kekayaan alam tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Dalam waktu kurang dari dua dekade, Hamad berhasil membalik keadaan hingga Qatar menjadi pusat investasi global dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia.
Baca Juga: Deretan 25 Pemimpin Dunia yang Sampaikan Belasungkawa atas Kematian Sheikh Hamad
Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani lahir di Doha pada Januari 1952. Dia merupakan putra Sheikh Khalifa bin Hamad Al Thani yang saat itu menjadi penguasa Qatar.
Sejak muda Hamad dipersiapkan menjadi pemimpin. Dia menempuh pendidikan di Royal Military Academy Sandhurst, Inggris, salah satu akademi militer paling bergengsi di dunia yang juga melahirkan banyak pemimpin dan anggota keluarga kerajaan dari berbagai negara.
Sepulang dari Inggris pada 1971, Hamad bergabung dengan Angkatan Bersenjata Qatar dan kemudian dipercaya memimpin berbagai jabatan strategis. Pada 1977, dia diangkat sebagai Putra Mahkota sekaligus Menteri Pertahanan. Posisi tersebut memberinya kesempatan menyusun arah pembangunan negara jauh sebelum menjadi emir.
Perubahan terbesar terjadi pada 27 Juni 1995 ketika Hamad mengambil alih kekuasaan dari ayahnya, Sheikh Khalifa bin Hamad Al Thani, melalui kudeta istana yang berlangsung tanpa pertumpahan darah.
Peristiwa tersebut sempat mengundang perhatian dunia. Namun setelah resmi menjadi emir, Hamad memilih fokus pada pembangunan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan diplomasi internasional dibanding memperbesar konflik politik domestik.
Saat Hamad mengambil alih kekuasaan pada 1995, Qatar belum memiliki pengaruh sebesar negara-negara tetangganya di Timur Tengah. Pendapatan negara memang berasal dari minyak dan gas, tetapi potensi kekayaan alam tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Dalam waktu kurang dari dua dekade, Hamad berhasil membalik keadaan hingga Qatar menjadi pusat investasi global dengan pendapatan per kapita tertinggi di dunia.
Baca Juga: Deretan 25 Pemimpin Dunia yang Sampaikan Belasungkawa atas Kematian Sheikh Hamad
Lulusan Militer Inggris yang Memimpin Modernisasi Qatar
Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani lahir di Doha pada Januari 1952. Dia merupakan putra Sheikh Khalifa bin Hamad Al Thani yang saat itu menjadi penguasa Qatar.
Sejak muda Hamad dipersiapkan menjadi pemimpin. Dia menempuh pendidikan di Royal Military Academy Sandhurst, Inggris, salah satu akademi militer paling bergengsi di dunia yang juga melahirkan banyak pemimpin dan anggota keluarga kerajaan dari berbagai negara.
Sepulang dari Inggris pada 1971, Hamad bergabung dengan Angkatan Bersenjata Qatar dan kemudian dipercaya memimpin berbagai jabatan strategis. Pada 1977, dia diangkat sebagai Putra Mahkota sekaligus Menteri Pertahanan. Posisi tersebut memberinya kesempatan menyusun arah pembangunan negara jauh sebelum menjadi emir.
Kudeta Tanpa Setetes Darah yang Mengubah Sejarah Qatar
Perubahan terbesar terjadi pada 27 Juni 1995 ketika Hamad mengambil alih kekuasaan dari ayahnya, Sheikh Khalifa bin Hamad Al Thani, melalui kudeta istana yang berlangsung tanpa pertumpahan darah.
Peristiwa tersebut sempat mengundang perhatian dunia. Namun setelah resmi menjadi emir, Hamad memilih fokus pada pembangunan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan diplomasi internasional dibanding memperbesar konflik politik domestik.
Lihat Juga :