Mahathir Mohamad Genap 101 Tahun, Dokter yang Sulap Wajah Malaysia Modern
Jum'at, 10 Juli 2026 - 13:44 WIB
Di luar ekonomi, Mahathir dikenal sebagai pemimpin yang lantang menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang.
Dia sering mengkritik dominasi negara-negara Barat dalam sistem ekonomi global, menyerukan kerja sama yang lebih erat di antara negara-negara Asia, serta menggagas kebijakan "Look East Policy" yang mendorong Malaysia belajar etos kerja, teknologi, dan manajemen dari Jepang serta Korea Selatan.
Bagi banyak warga Malaysia, Mahathir adalah simbol keberanian mengatakan apa yang diyakininya, bahkan ketika pandangannya berbeda dengan arus utama dunia. Namun warisannya tidak sepenuhnya bebas dari kritik.
Pemerintahannya sering dituduh membatasi kebebasan pers, menggunakan undang-undang keamanan terhadap lawan politik, serta memperkuat dominasi eksekutif atas berbagai lembaga negara. Hubungannya dengan Anwar Ibrahim yang berujung pada pemecatan dan penahanan sang wakil perdana menteri pada 1998 menjadi salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah politik Malaysia.
Ironisnya, dua dekade kemudian keduanya kembali bersekutu untuk mengalahkan pemerintahan Barisan Nasional pada Pemilu 2018, sebuah peristiwa yang mengakhiri lebih dari enam dekade dominasi koalisi tersebut.
Kini, ketika usianya mencapai 101 tahun, Mahathir tetap menjadi sosok yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan Malaysia. Pendukungnya mengenangnya sebagai "Bapak Malaysia Modern" yang membawa negaranya memasuki era industrialisasi. Para pengkritiknya mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi juga meninggalkan persoalan demokrasi dan kebebasan sipil. Namun satu hal sulit dibantah.
Sedikit sekali pemimpin yang mampu membentuk arah sebuah negara selama puluhan tahun seperti yang dilakukan Mahathir Mohamad. Dari seorang dokter sederhana di Alor Setar menjadi negarawan yang disegani dunia, kisah hidupnya adalah cerita tentang ambisi, kerja keras, keberanian mengambil keputusan, sekaligus kompleksitas seorang manusia yang memilih mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk politik.
Di usia 101 tahun, Mahathir mungkin tak lagi memegang tampuk kekuasaan. Namun warisan yang dia tinggalkan masih berdiri tegak di jalan-jalan raya, gedung-gedung pencakar langit, kawasan industri, hingga kepercayaan diri sebuah bangsa yang pernah dia yakinkan bahwa Malaysia mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju.
Dia sering mengkritik dominasi negara-negara Barat dalam sistem ekonomi global, menyerukan kerja sama yang lebih erat di antara negara-negara Asia, serta menggagas kebijakan "Look East Policy" yang mendorong Malaysia belajar etos kerja, teknologi, dan manajemen dari Jepang serta Korea Selatan.
Bagi banyak warga Malaysia, Mahathir adalah simbol keberanian mengatakan apa yang diyakininya, bahkan ketika pandangannya berbeda dengan arus utama dunia. Namun warisannya tidak sepenuhnya bebas dari kritik.
Pemerintahannya sering dituduh membatasi kebebasan pers, menggunakan undang-undang keamanan terhadap lawan politik, serta memperkuat dominasi eksekutif atas berbagai lembaga negara. Hubungannya dengan Anwar Ibrahim yang berujung pada pemecatan dan penahanan sang wakil perdana menteri pada 1998 menjadi salah satu episode paling kontroversial dalam sejarah politik Malaysia.
Ironisnya, dua dekade kemudian keduanya kembali bersekutu untuk mengalahkan pemerintahan Barisan Nasional pada Pemilu 2018, sebuah peristiwa yang mengakhiri lebih dari enam dekade dominasi koalisi tersebut.
Kini, ketika usianya mencapai 101 tahun, Mahathir tetap menjadi sosok yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan Malaysia. Pendukungnya mengenangnya sebagai "Bapak Malaysia Modern" yang membawa negaranya memasuki era industrialisasi. Para pengkritiknya mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi juga meninggalkan persoalan demokrasi dan kebebasan sipil. Namun satu hal sulit dibantah.
Sedikit sekali pemimpin yang mampu membentuk arah sebuah negara selama puluhan tahun seperti yang dilakukan Mahathir Mohamad. Dari seorang dokter sederhana di Alor Setar menjadi negarawan yang disegani dunia, kisah hidupnya adalah cerita tentang ambisi, kerja keras, keberanian mengambil keputusan, sekaligus kompleksitas seorang manusia yang memilih mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk politik.
Di usia 101 tahun, Mahathir mungkin tak lagi memegang tampuk kekuasaan. Namun warisan yang dia tinggalkan masih berdiri tegak di jalan-jalan raya, gedung-gedung pencakar langit, kawasan industri, hingga kepercayaan diri sebuah bangsa yang pernah dia yakinkan bahwa Malaysia mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju.
(mas)
Lihat Juga :