AS dan Iran Sepakat Damai, Netanyahu Jadi Sasaran Kemarahan Warga Israel
Selasa, 16 Juni 2026 - 07:44 WIB
“Kita tidak boleh berkompromi pada apa pun selain pembubaran Hizbullah,” tulis Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, di X.
Di Lebanon, kesepakatan itu membuat masa depan kampanye Israel tidak pasti. Tetapi di Iran, kesepakatan itu membatasi ruang gerak Netanyahu sebelum dia mencapai tujuan perangnya.
Israel dan AS melancarkan perang pada 28 Februari dengan tujuan menghancurkan ambisi nuklir Iran. Tetapi hampir empat bulan kemudian, setelah Iran berhasil menahan serangan udara yang dahsyat, Teheran berada dalam posisi yang jauh lebih kuat, kata para analis dan kritikus. Jaringan proksinya masih bertahan dan masih mampu menembakkan rudal ke Israel.
Teheran telah mampu mengendalikan Selat Hormuz, salah satu jalur air terpenting di dunia, mencekik perdagangan global dan menaikkan harga kebutuhan pokok di seluruh dunia. Belum jelas juga seberapa besar kerusakan yang terjadi pada infrastruktur nuklir dan program rudal balistik Iran.
“Israel percaya bahwa perang tersebut menunda program nuklir Iran, tetapi tidak mengubah tujuannya,” tulis komentator politik Anna Barsky untuk Ma’ariv, sebuah surat kabar berbahasa Ibrani.
Dia mengatakan para pejabat Israel juga khawatir bahwa berdasarkan kesepakatannya dengan AS, Iran dapat menerima aliran dana besar.
Menurut tiga pejabat regional yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas negosiasi, kesepakatan tersebut diharapkan mencakup pencabutan sanksi secara bertahap dan pelepasan aset Iran yang dibekukan.
“Trump menandatangani perjanjian yang menyalurkan miliaran dolar ke rezim Ayatollah, membiarkan infrastruktur nuklir tetap utuh, mempertahankan ancaman balistik seperti semula, dan memberikan bantuan kepada rezim pembunuh di Teheran,” tulis Yair Golan, politisi dan mantan jenderal Israel, di X.
Di Lebanon, kesepakatan itu membuat masa depan kampanye Israel tidak pasti. Tetapi di Iran, kesepakatan itu membatasi ruang gerak Netanyahu sebelum dia mencapai tujuan perangnya.
Israel dan AS melancarkan perang pada 28 Februari dengan tujuan menghancurkan ambisi nuklir Iran. Tetapi hampir empat bulan kemudian, setelah Iran berhasil menahan serangan udara yang dahsyat, Teheran berada dalam posisi yang jauh lebih kuat, kata para analis dan kritikus. Jaringan proksinya masih bertahan dan masih mampu menembakkan rudal ke Israel.
Teheran telah mampu mengendalikan Selat Hormuz, salah satu jalur air terpenting di dunia, mencekik perdagangan global dan menaikkan harga kebutuhan pokok di seluruh dunia. Belum jelas juga seberapa besar kerusakan yang terjadi pada infrastruktur nuklir dan program rudal balistik Iran.
“Israel percaya bahwa perang tersebut menunda program nuklir Iran, tetapi tidak mengubah tujuannya,” tulis komentator politik Anna Barsky untuk Ma’ariv, sebuah surat kabar berbahasa Ibrani.
Dia mengatakan para pejabat Israel juga khawatir bahwa berdasarkan kesepakatannya dengan AS, Iran dapat menerima aliran dana besar.
Menurut tiga pejabat regional yang berbicara dengan syarat anonim karena sensitivitas negosiasi, kesepakatan tersebut diharapkan mencakup pencabutan sanksi secara bertahap dan pelepasan aset Iran yang dibekukan.
“Trump menandatangani perjanjian yang menyalurkan miliaran dolar ke rezim Ayatollah, membiarkan infrastruktur nuklir tetap utuh, mempertahankan ancaman balistik seperti semula, dan memberikan bantuan kepada rezim pembunuh di Teheran,” tulis Yair Golan, politisi dan mantan jenderal Israel, di X.
(mas)
Lihat Juga :