Kisah Raja Faisal Arab Saudi Cekik Ekonomi AS dengan Embargo Minyak karena Amerika Pro-Israel

Sabtu, 28 Maret 2026 - 10:35 WIB
Pada akhir 1970-an dan awal 1980-an, Amerika Serikat dan Arab Saudi menandatangani sejumlah perjanjian keamanan dan ekonomi yang saling menguntungkan. Salah satu contoh penting adalah perjanjian penjualan senjata, di mana Amerika Serikat mulai menyediakan peralatan militer canggih kepada Arab Saudi.

Kedua negara kemudian mulai bekerja sama lebih erat dalam sektor energi. Arab Saudi tetap menjadi salah satu penyedia minyak terbesar bagi Amerika Serikat, dan kerja sama ini membantu menstabilkan pasar energi global.

Kedua negara juga memiliki kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas di Timur Tengah. Mereka kembali akur, menjalin kerja sama dalam berbagai isu regional, seperti keamanan dan penanganan terorisme, membantu memperkuat hubungan bilateral.

Nasib Tragis Raja Faisal



Meski tercatat sebagai raja pemberani, Raja Faisal meninggal dengan cara tragis. Dia meninggal pada 25 Maret 1975 akibat ditembak oleh keponakannya sendiri; Faisal bin Musaid al-Saud, dari jarak dekat di istana Riyadh.

Pelaku kemudian ditangkap, diadili dan eksekusi mati pada tahun yang sama.

Motif pembunuhan terhadap Raja Faisal hingga hari ini tidak pernah benar-benar dipastikan secara tunggal. Namun, para sejarawan dan laporan resmi umumnya mengerucut pada tiga penjelasan utama—dengan satu yang paling kuat.

Pertama, motif dendam pribadi. Ini merupakan versi resmi pemerintah Arab Saudi dan menjadi penjelasan yang paling luas diterima.

Faisal bin Musaid diduga menyimpan dendam terkait kematian kakaknya, Khalid bin Musaid al-Saud yang tewas pada 1965 saat terlibat dalam protes terhadap kebijakan modernisasi Arab Saudi, termasuk kontroversi seputar televisi yang didukung oleh Raja Faisal.

Kedua, faktor psikologis dan perilaku. Pelaku diketahui pernah tinggal dan belajar di Amerika Serikat. Pelaku memiliki perilaku tidak stabil, dan diduga mengalami gangguan psikologis.

Namun, tidak ada diagnosis resmi yang benar-benar mengonfirmasi bahwa pelaku mengalami gangguan mental berat.

Ketiga, spekulasi politik dan konspirasi. Karena posisi Raja Faisal sangat berpengaruh—terutama setelah embargo minyak tahun 1973, muncul berbagai teori. Seperti dugaan keterlibatan intelijen asing, motif pembunuhan terkait sikap anti-Barat dan anti-Zionisme, dan motif ketegangan geopolitik pasca-embargo minyak.

Hanya saka, tidak ada bukti kuat atau dokumen resmi yang membenarkan keterlibatan pihak luar. Sebagian besar sejarawan menganggap ini sebagai spekulasi politik.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!