Filipina Jadi Negara Pertama yang Menyatakan Darurat Energi akibat Perang Iran

Selasa, 24 Maret 2026 - 21:23 WIB
Deklarasi ini akan berlaku selama satu tahun kecuali diperpanjang atau dicabut oleh presiden.

Langkah ini menyusul seruan dari beberapa senator yang mendesak Marcos untuk mengakui kesulitan "tingkat darurat" yang dihadapi keluarga Filipina akibat melonjaknya harga minyak.

Pada hari Selasa, lonjakan harga lainnya membuat harga bensin dan solar naik lebih dari dua kali lipat dari level sebelum perang pada bulan Februari.

Sebelumnya, juga pada hari Selasa, Menteri Energi Sharon Garin mengatakan negara tersebut memiliki persediaan bahan bakar sekitar 45 hari.

Garin mengatakan kepada wartawan bahwa Filipina akan "untuk sementara" lebih bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara untuk memenuhi kebutuhan energinya sebagai respons terhadap melonjaknya biaya gas alam cair (LNG).

Sebagai bagian dari langkah-langkah penanganan darurat energi, pemerintah Filipina memperkenalkan kerangka dukungan komprehensif yang dikenal sebagai Paket Terpadu untuk Mata Pencaharian, Industri, Pangan, dan Transportasi atau UPLIFT.

Inisiatif tersebut bertujuan untuk membantu sektor-sektor kunci, termasuk transportasi, pertanian, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!