Sepekan Perang Melawan Iran, AS Sudah Tekor Rp102 Triliun
Senin, 09 Maret 2026 - 08:58 WIB
Perang pecah dengan serangan gabungan AS dan Israel terhadap target militer Iran, tetapi konflik tersebut sejak itu meluas ke seluruh Timur Tengah. Iran telah membalas melalui serangan rudal balistik dan drone yang membutuhkan respons pertahanan yang mahal dari Amerika dan Israel.
Saat perdebatan tentang pendanaan perang semakin intensif di Washington, para pejabat Pentagon menekankan perlunya mempertahankan momentum melawan kemampuan Iran sambil menyeimbangkan prioritas pertahanan nasional jangka panjang.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi, dan pejabat militer senior.
Iran membalas dengan serangan gencar yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh wilayah Timur Tengah, serta beberapa kota di Israel. Serangan terus meningkat.
Konflik ini juga telah menimbulkan kekhawatiran tentang pasokan energi global di tengah penurunan tajam lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, jalur utama yang mengangkut sekitar 20 juta barel minyak setiap hari.
Saat perdebatan tentang pendanaan perang semakin intensif di Washington, para pejabat Pentagon menekankan perlunya mempertahankan momentum melawan kemampuan Iran sambil menyeimbangkan prioritas pertahanan nasional jangka panjang.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, lebih dari 150 siswi, dan pejabat militer senior.
Iran membalas dengan serangan gencar yang menargetkan pangkalan AS, fasilitas diplomatik, dan personel militer di seluruh wilayah Timur Tengah, serta beberapa kota di Israel. Serangan terus meningkat.
Konflik ini juga telah menimbulkan kekhawatiran tentang pasokan energi global di tengah penurunan tajam lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz, jalur utama yang mengangkut sekitar 20 juta barel minyak setiap hari.
(mas)
Lihat Juga :