Ketika AS dan Israel Membingkai Konflik dengan Iran sebagai Perang Agama

Kamis, 05 Maret 2026 - 10:01 WIB
Dia menambahkan, pembingkaian peradaban mengacu pada penciptaan dikotomi “kita vs mereka”, yang menggambarkan konflik sebagai bentrokan antara seluruh cara hidup atau keyakinan, bukan hanya perselisihan tentang perbatasan atau kebijakan. Oleh karena itu, pernyataan seperti referensi Hegseth tentang "khayalan kenabian Islam" menyederhanakan istilah perang di benak orang awam.

“Perang sulit dibenarkan dalam bahasa strategis teknis,” kata Abusharif.

“Menggambarkan konflik sebagai perjuangan antara ‘peradaban dan fanatisme’, atau antara ‘kebaikan dan kejahatan’ dalam Alkitab, mengubah konfrontasi regional yang rumit menjadi drama moral yang mudah dipahami oleh khalayak biasa.”

“Kepemimpinan Israel telah lama menggunakan referensi Alkitab sebagai bahasa politik. Kita semua familiar dengan hal itu. Narasi-narasi tersebut telah mendunia. Dalam wacana politik Israel, bahasa ini menempatkan konflik kontemporer dalam narasi sejarah panjang tentang kelangsungan hidup Yahudi, dan itu menandakan pertaruhan eksistensial,” kata Abusharif.

Apakah Pemimpin AS atau Israel Pernah Bikin Referensi Keagamaan Sebelumnya?



Netanyahu dan pejabat Israel lainnya pernah menggunakan istilah “Amalek” sebelumnya untuk merujuk pada warga Palestina di Gaza selama perang genosida Israel di Gaza.

Secara historis, selama perang atau konfrontasi militer, presiden AS dan pejabat senior juga telah mengutip Alkitab atau menggunakan bahasa Kristen.

Presiden George W. Bush menggunakan bahasa serupa setelah serangan 11 September 2001.

Pada 16 September 2001, Bush mengatakan: “Perang salib ini, perang melawan terorisme ini, akan memakan waktu cukup lama.”

Perang Salib adalah serangkaian perang yang berbingkai agama, terutama antara abad ke-11 dan ke-13, di mana kepausan berperang melawan penguasa Muslim untuk memperebutkan wilayah.

Gedung Putih kemudian mencoba menjauhkan Bush dari kata "perang salib" untuk mengklarifikasi bahwa Bush tidak sedang melancarkan perang melawan Muslim.

Abusharif mengatakan bahwa perang melawan Iran adalah tentang kekuasaan dan politik, tetapi penggunaan retorika agama membangkitkan semangat pendukung dan "memmoralisasi" konflik tersebut.

“Perang itu sendiri bukanlah teologis. Itu adalah geopolitik. Tetapi bahasa yang digunakan di sekitarnya semakin banyak mengacu pada citra sakral dan narasi peradaban. Retorika itu dapat memobilisasi pendukung dan membingkai konflik dalam istilah moral absolut,” kata Abusharif.

“Namun, hal itu juga membawa risiko: begitu perang digambarkan dalam bahasa sakral, kompromi politik menjadi lebih sulit, harapan menjadi lebih tinggi, dan persepsi global tentang konflik dapat bergeser dengan cara yang mempersulit diplomasi," imbuh dia.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!