Didukung Garda Revolusi, Putra Khamenei Dipilih Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Rabu, 04 Maret 2026 - 09:29 WIB
Mojtaba, putra Ayatollah Ali Khamenei, dipilih jadi pemimpin tertinggi Iran. Foto/Iran International
TEHERAN - Majelis Pakar Iran yang terdiri dari 88 ulama Syiah berpengaruh, memilih putra Ali Khamenei, Mojtaba, sebagai Pemimpin Tertinggi berikutnya. Dia akan menggantikan ayahnya sehingga arah Iran sudah bisa ditebak yakni terus melanjutkan perlawanan kepada AS dan Israel.
Pemilihan Mojtaba tersebut karena di bawah tekanan dari Garda Revolusi Islam (IRGC). Itu diungkapkan sumber yang mengetahui hal tersebut kepada Iran International. Pasalnya, Mojtaba pernah menjadi tentara IRGC dan selama ayahnya berkuasa dia memiliki kendali kepada institusi militer tersebut.
Laporan Iran international itu dikuatkan informasi dari New York Times yang menyebutkan putra pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei adalah kandidat terdepan untuk menggantikan ayahnya sebagai kepala Republik Islam berikutnya. Kabar tersebut akan mengumumkan pilihan mereka paling cepat pada Rabu pagi.
Mengutip pejabat Iran yang mengetahui pembahasan tersebut, surat kabar itu mengatakan para ulama memiliki beberapa keberatan untuk menyatakan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi, karena khawatir hal itu dapat meningkatkan kemungkinan ia menjadi sasaran AS dan Israel.
Pemilihan Mojtaba tersebut karena di bawah tekanan dari Garda Revolusi Islam (IRGC). Itu diungkapkan sumber yang mengetahui hal tersebut kepada Iran International. Pasalnya, Mojtaba pernah menjadi tentara IRGC dan selama ayahnya berkuasa dia memiliki kendali kepada institusi militer tersebut.
Laporan Iran international itu dikuatkan informasi dari New York Times yang menyebutkan putra pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei adalah kandidat terdepan untuk menggantikan ayahnya sebagai kepala Republik Islam berikutnya. Kabar tersebut akan mengumumkan pilihan mereka paling cepat pada Rabu pagi.
Mengutip pejabat Iran yang mengetahui pembahasan tersebut, surat kabar itu mengatakan para ulama memiliki beberapa keberatan untuk menyatakan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi, karena khawatir hal itu dapat meningkatkan kemungkinan ia menjadi sasaran AS dan Israel.
Lihat Juga :