Mengapa Iran Sangat Sulit untuk Ditaklukkan Meski Dikeroyok AS dan Israel? Ini Analisisnya

Jum'at, 13 Februari 2026 - 13:36 WIB
Selain itu, negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Irak juga bergantung pada Selat Hormuz untuk memasok minyak dan gas mereka kepada para pelanggan.

Kerentanan Selat Hormuz adalah alasan utama mengapa semua mitra regional AS menentang intervensi militer di Iran.

Iran juga dapat mengacaukan jalur pelayaran Laut Merah melalui proksi Houthi-nya.

Hal ini dapat berdampak pada perdagangan global dan keamanan energi, sehingga melibatkan seluruh dunia dalam konflik tersebut.

Tak hanya itu, Iran juga memiliki sarana militer yang cukup besar untuk menimbulkan kerugian bagi AS dan Israel.

Arsenal Militer Iran



Arsenal militer terbesar Iran adalah kemampuan rudal dan drone-nya.

Iran memiliki persenjataan rudal balistik dan bahkan hipersonik yang tangguh, selain drone jarak jauh yang mematikan.

Selama perang 12 hari dengan Israel, Teheran meluncurkan lebih dari 500 rudal ke arah Israel, banyak di antaranya melewati sistem pertahanan udara berlapis canggih Israel dan menghantam wilayah Zionis.

Iran bahkan dapat menyerang pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

AS telah mengerahkan lebih dari 40.000 tentara ke wilayah itu, yang ditempatkan di hampir 18 pangkalan militer.

“Iran memiliki kemampuan untuk menghentikan produksi energi di wilayah tersebut kapan pun mereka mau. Iran dapat menyebabkan kerusakan dahsyat pada pangkalan militer AS, yang dapat mengakibatkan kematian ratusan atau bahkan ribuan tentara Amerika. Dan Iran dapat melakukan serangan yang menentukan terhadap Israel yang akan melemahkan kemampuan Israel untuk bertahan hidup dan membuat tanah tersebut tidak layak huni bagi jutaan penduduknya,” kata Scott Ritter, mantan inspektur senjata PBB dan perwira intelijen Korps Marinir AS.

Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) mengatakan Iran memiliki persenjataan rudal terbesar dan paling beragam di Timur Tengah, dengan ribuan rudal balistik dan jelajah yang jangkauannya mulai dari beberapa ratus kilometer hingga sejauh 2.000-2.500 kilometer.

Beberapa sistem tersebut dapat mencapai Israel dan sebagian Eropa tenggara. Sebagian besar pangkalan militer AS di wilayah tersebut berada dalam jangkauan rudal-rudal ini.

Pada tahun 2025, sebelum perang 12 hari, persediaan rudal balistik Iran diperkirakan antara 2.500 hingga 3.000 unit. Iran sudah menggunakan lebih dari 500 rudal selama perang.

Namun, Teheran meningkatkan produksi rudalnya setelah perang tersebut.

Pada bulan Oktober, CNN melaporkan bahwa Iran membeli natrium perklorat dari China untuk menambah persediaan rudalnya.

Menurut analis militer Ron Ben-Yishai, Iran sekarang memproduksi ratusan rudal balistik setiap bulan.

“Langkah-langkah yang dilaporkan termasuk beralih dari bahan bakar cair ke bahan bakar padat untuk mengurangi waktu persiapan peluncuran dari beberapa jam menjadi beberapa menit dan mengurangi jejak intelijennya, meningkatkan produksi massal rudal Kheibar dan Fattah, meningkatkan akurasi rudal menggunakan komponen teknologi, dan memperoleh intelijen berbasis satelit,” tulis The Jerusalem Post dalam laporanya tentang program rudal balistik Iran.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!