Iran Resmi Desak PBB Bertindak terkait Ancaman Serangan Militer Trump
Sabtu, 03 Januari 2026 - 12:19 WIB
Duta Besar Iran Amir Saeid Iravani. Foto/anadolu
TEHERAN - Pemerintah Iran secara resmi menuntut tindakan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyusul serangkaian pernyataan yang semakin agresif dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, termasuk klaim Washington "siap siaga" untuk campur tangan dalam kerusuhan yang sedang berlangsung di Iran.
Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Jumat (2/1/2026), Duta Besar Iran Amir Saeid Iravani menuduh Trump melakukan "penghasutan kekerasan, kerusuhan, dan tindakan terorisme" di Iran.
"Presiden Amerika Serikat secara terbuka mengancam Republik Islam Iran dengan penggunaan kekuatan dan intervensi, menyatakan 'Kami siap siaga dan siap bertindak'," tulisnya.
“Pernyataan-pernyataan yang berulang dan disengaja ini menunjukkan pola perilaku melanggar hukum yang konsisten oleh Amerika Serikat,” bunyi surat itu, yang selanjutnya merinci sejarah panjang dugaan campur tangan AS dalam urusan Iran, termasuk kudeta tahun 1953, dukungan untuk Saddam Hussein selama Perang Iran-Irak, jatuhnya pesawat Iran Air Flight 655, dan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani enam tahun lalu.
Dalam surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada hari Jumat (2/1/2026), Duta Besar Iran Amir Saeid Iravani menuduh Trump melakukan "penghasutan kekerasan, kerusuhan, dan tindakan terorisme" di Iran.
"Presiden Amerika Serikat secara terbuka mengancam Republik Islam Iran dengan penggunaan kekuatan dan intervensi, menyatakan 'Kami siap siaga dan siap bertindak'," tulisnya.
“Pernyataan-pernyataan yang berulang dan disengaja ini menunjukkan pola perilaku melanggar hukum yang konsisten oleh Amerika Serikat,” bunyi surat itu, yang selanjutnya merinci sejarah panjang dugaan campur tangan AS dalam urusan Iran, termasuk kudeta tahun 1953, dukungan untuk Saddam Hussein selama Perang Iran-Irak, jatuhnya pesawat Iran Air Flight 655, dan pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani enam tahun lalu.
Lihat Juga :