Dunia Marah karena Israel Cegat Armada Bantuan Gaza, Protes di Mana-mana
Jum'at, 03 Oktober 2025 - 08:47 WIB
"Kami menuntut pembebasan semua anggota armada Sumud dan semua tahanan, dan sebagai mahasiswa, kami menuntut agar semua hubungan akademik dan ekonomi dengan negara Israel yang melakukan genosida diakhiri di universitas-universitas kami," ujar Elif Bozkurt, mahasiswa berusia 21 tahun, kepada AFPTV.
Sekitar 3.000 demonstran juga turun ke depan gedung Parlemen Eropa di Brussels, dengan satu spanduk yang mendesak Uni Eropa untuk "menghentikan pengepungan" sementara bom asap dan petasan diledakkan di tengah kerumunan.
"Pesannya adalah bahwa setiap kapal harus dilindungi," ujar seorang pengunjuk rasa bernama Isis kepada AFPTV saat demonstrasi tersebut, mendesak para pemimpin Uni Eropa untuk menghentikan "jumlah uang yang sangat besar yang dikirim ke Israel" melalui perjanjian blok tersebut dengan negara Timur Tengah tersebut.
Kerumunan dengan jumlah serupa berunjuk rasa di Jenewa, menurut seorang jurnalis AFP di lokasi kejadian dan penyiar Swiss, dengan para pengunjuk rasa yang sebagian besar masih muda menyalakan api unggun di dekat stasiun pusat.
Para pengunjuk rasa kemudian menuju ke jembatan Mont Blanc di kota Swiss, di ujung Danau Jenewa, untuk disambut oleh barisan polisi antihuru-hara, yang mendorong mundur para demonstran setelah bentrokan singkat.
Di Ibu Kota Yunani, Athena, Sekelompok pengunjuk rasa menyalakan kembang api dan suar.
"Serangan terhadap armada Sumud adalah eskalasi biadab dari negara apartheid Israel. Mereka bahkan tidak mau membuka jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza," ujar Petros Konstantinou, koordinator kelompok Dunia Melawan Rasisme dan Fasisme (KEERFA) Yunani, kepada AFPTV.
Puluhan orang juga berunjuk rasa di ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, di depan kedutaan besar Amerika Serikat, sekutu utama Israel.
"Kami sangat kesal...Kesal, marah, muak karena apa yang mereka lakukan adalah untuk kemanusiaan," kata Ili Farhan, demonstran berusia 43 tahun.
"Mereka hanya membawa bantuan dan makanan bayi...Penangkapan ini tidak adil," ujarnya.
Sekitar 3.000 demonstran juga turun ke depan gedung Parlemen Eropa di Brussels, dengan satu spanduk yang mendesak Uni Eropa untuk "menghentikan pengepungan" sementara bom asap dan petasan diledakkan di tengah kerumunan.
"Pesannya adalah bahwa setiap kapal harus dilindungi," ujar seorang pengunjuk rasa bernama Isis kepada AFPTV saat demonstrasi tersebut, mendesak para pemimpin Uni Eropa untuk menghentikan "jumlah uang yang sangat besar yang dikirim ke Israel" melalui perjanjian blok tersebut dengan negara Timur Tengah tersebut.
Kerumunan dengan jumlah serupa berunjuk rasa di Jenewa, menurut seorang jurnalis AFP di lokasi kejadian dan penyiar Swiss, dengan para pengunjuk rasa yang sebagian besar masih muda menyalakan api unggun di dekat stasiun pusat.
Para pengunjuk rasa kemudian menuju ke jembatan Mont Blanc di kota Swiss, di ujung Danau Jenewa, untuk disambut oleh barisan polisi antihuru-hara, yang mendorong mundur para demonstran setelah bentrokan singkat.
Di Ibu Kota Yunani, Athena, Sekelompok pengunjuk rasa menyalakan kembang api dan suar.
"Serangan terhadap armada Sumud adalah eskalasi biadab dari negara apartheid Israel. Mereka bahkan tidak mau membuka jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza," ujar Petros Konstantinou, koordinator kelompok Dunia Melawan Rasisme dan Fasisme (KEERFA) Yunani, kepada AFPTV.
Puluhan orang juga berunjuk rasa di ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, di depan kedutaan besar Amerika Serikat, sekutu utama Israel.
"Kami sangat kesal...Kesal, marah, muak karena apa yang mereka lakukan adalah untuk kemanusiaan," kata Ili Farhan, demonstran berusia 43 tahun.
"Mereka hanya membawa bantuan dan makanan bayi...Penangkapan ini tidak adil," ujarnya.
(mas)
Lihat Juga :