4 Keunggulan GCC yang Dijuluki Cikal Bakal NATO Islam

Minggu, 21 September 2025 - 03:10 WIB
Pada tahun 2023, negara-negara GCC secara kolektif menghabiskan USD114,5 miliar untuk militer mereka. Arab Saudi menyumbang porsi terbesar, menganggarkan setidaknya USD69 miliar dan menempati peringkat ketujuh sebagai negara dengan pengeluaran militer terbesar di dunia, diikuti oleh Uni Emirat Arab (UEA) sebesar USD20,7 miliar, Qatar sebesar USD9,02 miliar, Kuwait sebesar USD7,77 miliar, Oman sebesar $6,5 miliar, dan Bahrain sebesar USD1,4 miliar, menurut International Institute for Strategic Studies, Military Balance 2024.

Baca Juga: Akankah Saudi Memiliki Akses ke Senjata Nuklir Pakistan?

2. Mayoritas Memiliki Pangkalan Militer AS

AS telah mengoperasikan pangkalan militer di Timur Tengah selama beberapa dekade.

Menurut Council on Foreign Relations, AS mengoperasikan jaringan luas pangkalan militer, baik permanen maupun sementara, di setidaknya 19 lokasi di kawasan tersebut.

Dari jumlah tersebut, delapan merupakan pangkalan permanen di lima dari enam negara GCC – Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab – serta di Mesir, Irak, dan Yordania.

Pangkalan Udara Al Udeid didirikan di Qatar pada tahun 1996 dan merupakan pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah. Dengan luas 24 hektar, pangkalan ini menampung hampir 100 pesawat terbang serta drone. Pangkalan ini, yang menampung sekitar 10.000 tentara, berfungsi sebagai markas terdepan Komando Pusat AS (CENTCOM) dan telah menjadi pusat operasi di Irak, Suriah, dan Afghanistan.

Menyusul serangan Israel di Doha, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengunjungi Qatar, tiba sehari setelah menghadiri pertemuan di Israel.

Dalam kunjungannya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menekankan hubungan strategis negaranya dengan Amerika Serikat, khususnya di bidang pertahanan. Ia menambahkan: "Kami bertekad untuk mempertahankan kedaulatan kami dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah terulangnya serangan semacam itu."

3. Pakta Pertahanan Bilateral Perkuat NATO Islam

Pada Rabu malam, Arab Saudi menandatangani "perjanjian pertahanan bersama strategis" (SMDA) dengan Pakistan yang bersenjata nuklir.

Perjanjian tersebut menyatakan bahwa setiap agresi terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai tindakan agresi terhadap keduanya.

Pakta tersebut muncul hanya beberapa hari setelah hampir 60 negara anggota Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) berkumpul di Doha dalam sebuah demonstrasi solidaritas regional dengan Qatar pasca-serangan baru-baru ini.

4. Memiliki Senjata yang Beragam dan Super Canggih

Enam negara Teluk telah membangun jaringan pertahanan udara berlapis yang menggabungkan sistem AS, Eropa, Rusia, dan China.

Persenjataan mereka beragam, mulai dari pencegat jarak jauh hingga rudal pertahanan titik dan senjata antipesawat.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!