6 Penyebab Pemerintahan Macron Runtuh, dari Ukraina hingga Penghematan
Senin, 08 September 2025 - 18:35 WIB
2. Jebakan Bayrou Persulit Posisi Macron
Melansir RT, Francois Bayrou adalah salah satu nama yang paling dikenal dalam politik Prancis. Ia memimpin Gerakan Demokratik sentris (MoDem) dan telah menjabat sebagai wali kota Pau sejak 2014. Pada tahun 2017, dukungannya sangat penting bagi Macron, memberikan kredibilitas bagi kandidat yang saat itu masih muda di pusat politik.Sebagai presiden, Macron sempat mengangkatnya sebagai menteri kehakiman, dan setelah Michel Barnier dipaksa keluar pada akhir 2024, Bayrou diangkat menjadi perdana menteri untuk menyatukan koalisi Macron yang rapuh. Namun, dengan anggaran yang kolaps dan dukungan yang menguap, pria yang pernah dipuji sebagai penstabil kini disalahkan karena menyeret Macron lebih jauh ke dalam krisis.
3. Perlawanan Partai Sayap Kanan Menguat
Di Prancis, pemerintah dapat menggunakan Pasal 49.3 Konstitusi untuk meloloskan rancangan undang-undang (RUU) melalui Majelis Nasional, majelis rendah parlemen, tanpa pemungutan suara. Mekanisme ini telah ada sejak 1958 dan legal, tetapi berisiko: setelah Pasal 49.3 dipicu, anggota parlemen oposisi memiliki waktu 24 jam untuk mengajukan mosi tidak percaya. Jika mosi tersebut lolos, pemerintahan akan jatuh. Keputusan Bayrou untuk menggunakan 49,3 mengubah rencana penghematan senilai €44 miliar menjadi pertaruhan untuk bertahan hidup.Bayrou memilih konfrontasi daripada kompromi. Dengan mengaitkan program penghematannya secara langsung dengan mosi tidak percaya, ia berharap dapat menunjukkan tekad. Paket tersebut mencakup langkah-langkah yang tidak populer seperti pemotongan hari libur nasional dan kenaikan biaya layanan kesehatan.
Alih-alih menggalang dukungan para deputi, langkah tersebut justru menyatukan hampir semua faksi oposisi. Partai National Rally yang berhaluan kanan ekstrem, Partai Sosialis, dan Partai France Unbowed yang berhaluan kiri semuanya menyatakan akan memilihnya mundur, mengajukan mosi tidak percaya yang memicu konfrontasi pada hari Senin. Apa yang seharusnya menjadi unjuk kekuatan justru berubah menjadi bunuh diri politik.
4. Popularitas Macron Terus Menurun
Jika Bayrou jatuh, Macron akan terekspos: ia harus memilih di antara dua pilihan yang buruk. Ia dapat menunjuk perdana menteri Sosialis untuk meloloskan anggaran melalui parlemen, yang secara efektif menyerahkan kendali atas kebijakan dalam negeri. Atau ia bisa bertaruh pada pemilu dadakan, yang menurut jajak pendapat akan memberikan lebih banyak kursi kepada Partai Reli Nasional Le Pen.Lihat Juga :