6 Fakta Abu Obeida Jadi Ikon Perlawanan Hamas terhadap Israel

Selasa, 02 September 2025 - 14:10 WIB

2. Pertama Kali Muncul pada 2002

Abu Obeida pertama kali muncul di depan umum pada tahun 2002 dalam sebuah film dokumenter tentang pejuang terowongan, kefasihan dan kepercayaan dirinya yang berani meninggalkan jejak.

Pada tahun 2006, ia menjadi wajah resmi Brigade Qassam, mengumumkan penangkapan tentara Israel Gilad Shalit dalam sebuah operasi yang diakui Israel sebagai pukulan strategis.

Sejak saat itu, suaranya menjadi soundtrack setiap perang Gaza.

3. Selalu Meningkatkan Moral Pejuang Palestina

Mengenakan seragam, bertopeng keffiyeh khasnya, ia melontarkan ancaman dan sumpah balas dendam sambil meningkatkan moral Palestina.

Kata-katanya, yang terukur dan tepat, seringkali lebih berbobot daripada pidato politik yang berapi-api. Para analis Israel menyebutnya "senjata psikologis", dan menyatakan bahwa penampilannya saja dapat meresahkan publik Israel.

Seiring bertambahnya persenjataan Hamas, dari roket jarak pendek hingga rudal dan drone jarak jauh, Abu Obeida menjadi naratornya.

Di balik layar, sumber-sumber Hamas mengatakan, ia merupakan bagian dari lingkaran pengambil keputusan bersama Mohammed Deif dan Yahya Sinwar, yang tidak hanya membentuk pernyataan tetapi juga strategi media sayap bersenjata tersebut.

4. Kematiannya Menimbulkan Duka Mendalam

Berbicara kepada The New Arab, warga di seluruh Gaza menggambarkan keterkejutan dan kesedihan mereka atas laporan pembunuhan Abu Obeida, menekankan bahwa ia telah lama melampaui Hamas untuk mewujudkan suara perlawanan Palestina itu sendiri.

"Saya menentang Hamas sejak mereka menguasai Gaza pada tahun 2007, tetapi saya dulu menghormati pria bertopeng, Abu Obeida, karena ia adalah wajah asli kami yang harus tetap ada dalam menghadapi pendudukan Israel," ujar Abu Mohammed, seorang pria Palestina dari Jabalia, kepada TNA.

"Abu Obeida bukan hanya juru bicara Hamas, tetapi ia adalah suara kami melawan dunia yang tidak adil, termasuk dunia Arab," kata Abu Mohammed.

"Sekalipun Hamas membuat apa yang saya yakini sebagai keputusan terburuk dalam sejarahnya dengan melancarkan serangan 7 Oktober, didorong oleh kalkulasi politik yang hanya diketahui oleh para pemimpinnya, Abu Obeida tetap mewakili kami. Dia seperti Handala, yang digambarkan oleh Naji al-Ali, selalu mencari tanah air, martabat, dan kebebasan," tambahnya.

"Israel mungkin membunuhnya secara fisik, tetapi Israel tidak akan pernah membunuhnya secara bermakna. Abu Obeida bukan lagi sekadar manusia; dia adalah sebuah ide yang berakar kuat dalam diri kami. Ketika dia berbicara, kami merasa dia berbicara untuk seluruh Gaza," kata Areej Ahmed, seorang perempuan Palestina dari kamp pengungsi al-Nuseirat.

"Saya tidak bisa melupakan pidato-pidatonya kepada dunia Arab dan umat Muslim, yang memohon kepada mereka untuk menyelamatkan Gaza dari kehancuran, tetapi tak seorang pun datang […] Saya tak bisa melupakan pidato terakhirnya, ketika ia mengatakan bahwa pada Hari Kiamat, seluruh dunia, termasuk bangsa Arab, akan berdiri sebagai musuh kita di hadapan Allah. Dalam kata-katanya, saya merasa ia mengucapkan selamat tinggal, seolah ia tahu ajalnya sudah dekat," ujar ibu tiga anak berusia 39 tahun itu kepada TNA.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!