18 Negara dengan Gaji Anggota DPR Tertinggi di Dunia

Jum'at, 22 Agustus 2025 - 15:30 WIB

16. Brasil



USD90.980/tahun → Rp1,48 miliar. Ditambah tunjangan rumah, kendaraan, dan kantor, total kompensasi bisa mencapai USD120.000–130.000 → Rp1,95–2,12 miliar, sehingga memicu kritik di tengah kondisi ekonomi fluktuatif.

17. Filipina



Gaji pokok USD62.640/tahun → Rp1,02 miliar. Tunjangan termasuk kantor, kendaraan, dan staf kantor distrik; total kompensasi bisa menyentuh USD100.000 (Rp 1,6 miliar).

Tapi karena GDP per kapita Filipina rendah, rasio ini menyebabkan sorotan tajam atas ketimpangan.

18. Afrika Selatan



Gaji USD70.250/tahun → Rp1,14 miliar. Tunjangan staf dan transport menambah jumlah efektif. GDP per kapita negara ini berkisar USD6.000, sehingga remunerasi legislatif relatif tinggi dan rawan kritik.

Mengapa Ini Penting?

1. Hubungan Gaji Legislator dan Ketimpangan Sosial



Negara-negara dengan gaji anggota legislatif tinggi secara absolut mungkin tampil mahal, tetapi jika GDP per kapita tinggi pula (misalnya AS, Kanada, Jerman), proporsionalitas tetap dijaga.

Namun di negara dengan GDP rendah (seperti Filipina atau Kolombia), gaji "miliaran rupiah" tersebut menciptakan jarak besar antara rakyat dan wakilnya, menimbulkan tuduhan elitisme dan ketidakpekaan politik.

2. Status Transparansi



Negara-negara demokrasi lanjut (Kanada, Jerman, Australia, Prancis, Swiss) menerapkan mekanisme pelaporan terbuka: gaji pokok dan tunjangan tercatat dan bisa diakses publik.

Ini mengurangi potensi korupsi atau penyalahgunaan dana.

3. Tunjangan Pelengkap



Dalam banyak kasus, gaji pokok hanya sebagian dari kompensasi. Staf, kantor, transportasi, subsidi tempat tinggal, bahkan fasilitas keamanan adalah komponen penting yang bisa menggandakan gaji legislator.

4. Respons Publik dan Kritik Sosial



Di beberapa negara, Gaji legislatif yang tinggi menimbulkan reaksi keras:

Filipina & Kolombia: rakyat menyuarakan bahwa legislator terlalu dibayar, sementara sektor publik (pendidikan, kesehatan) kurang memadai.

Italia dan Brasil: krisis fiskal atau pandemi memicu desakan pada legislator untuk menurunkan gaji atau tunjangan.

AS: debat muncul soal perbedaan antara legislator dan PAC atau “lobbyist”, meski gaji legislatif sebenarnya tidak ekstrem dibanding CEO korporat.

5. Pertimbangan Budaya Politik



Negara Skandinavia (Swedia) dan Selandia Baru lebih memilih gaji pokok yang “cukup”, mengandalkan sistem publik yang kuat agar legislator tidak terlalu bergantung pada tunjangan besar. Ini menciptakan kontrol publik alami dan integritas jangka panjang.

Secara keseluruhan, negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Jerman, dan Italia berada di urutan teratas dalam hal gaji pokok legislator — berkisar antara USD100 ribu hingga USD174 ribu per tahun, yang dikonversi menjadi miliaran rupiah berkat kurs saat ini (USD 1 ≈ Rp 16.283).

Namun, proporsionalitas terhadap GDP per kapita tetap menjadi pedoman keadilan sosial. Di negara maju, gaji tinggi dibarengi transparansi dan infrastruktur publik yang kuat; sedangkan di negara berkembang, meski angka absolut lebih rendah, rasio terhadap pendapatan nasional sering menimbulkan kritik.

Tunjangan dan fasilitas bukanlah tambahan kecil—mereka dapat menggandakan total kompensasi. Transparansi atas tunjangan ini menjadi kunci terhadap legitimasi publik legislator.

Akhirnya, dalam menyikapi isu remunerasi parlemen, dibutuhkan keseimbangan antara kompensasi yang memadai untuk menarik talenta politik yang berkualitas, dan kewajaran sosial agar kepercayaan publik terhadap institusi tetap terjaga.

Baca juga: 10 Alasan Israel Selalu Gagal Menaklukkan Gaza
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!