Ketika Rusia Menyesal Menjual Murah Alaska kepada AS
Jum'at, 15 Agustus 2025 - 14:21 WIB
Pada tahun 1867, Rusia di bawah Tsar Alexander II yang dikenal picik, menjual Alaska yang kaya minyak dan gas seharga USD7,2 juta kepada AS. Harga itu setara Rp116,4 miliar berdasarkan kurs saat ini.
Ratusan tahun berlalu, kaum nasionalis Rusia kini menyesalkan penjualan Alaska tersebut.
“Jika Rusia menguasai Alaska saat ini, situasi geopolitik dunia akan berbeda,” ujar Sergey Aksyonov, politisi Rusia yang pernah menjadi kepala wilayah Crimea.
Rakyat Rusia mulai menetap di Alaska pada tahun 1784, dan dari sana mereka mendirikan pos-pos perdagangan dan melakukan pekerjaan misionaris.
Pada tahun 1860-an, Rusia telah kalah dalam Perang Crimea dan berada dalam posisi keuangan yang sulit. Tsar Alexander II khawatir kehilangan wilayah Alaska tanpa kompensasi apa pun dan akhirnya memutuskan untuk membuat kesepakatan dengan AS, yakni menjual wilayah tersebut.
Andrei Znamenski, seorang profesor sejarah di Universitas Memphis, mengatakan kepada New York Times bahwa seruan untuk merebut kembali Alaska tidak terbatas pada kaum ekstremis Rusia.
"Ini adalah episode yang sangat menguntungkan bagi kaum nasionalis, yang ingin Rusia berekspansi dan mengeksploitasinya. Ini sesuai dengan retorika nasional: Lihat bagaimana Amerika memperlakukan kami," ujarnya.
Para pemimpin Rusia pernah mencoba meredam penyesalan kaum nasionalis penjualan Alaska kepada AS.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pernah mengatakan kepada surat kabar Rusia: "Peringatan ini [momen penjualan Alaska] tentu saja dapat memicu beragam emosi. Namun, ini adalah kesempatan yang baik untuk menyegarkan kembali ingatan akan kontribusi Rusia dalam penjelajahan benua Amerika."
Ratusan tahun berlalu, kaum nasionalis Rusia kini menyesalkan penjualan Alaska tersebut.
“Jika Rusia menguasai Alaska saat ini, situasi geopolitik dunia akan berbeda,” ujar Sergey Aksyonov, politisi Rusia yang pernah menjadi kepala wilayah Crimea.
Rakyat Rusia mulai menetap di Alaska pada tahun 1784, dan dari sana mereka mendirikan pos-pos perdagangan dan melakukan pekerjaan misionaris.
Pada tahun 1860-an, Rusia telah kalah dalam Perang Crimea dan berada dalam posisi keuangan yang sulit. Tsar Alexander II khawatir kehilangan wilayah Alaska tanpa kompensasi apa pun dan akhirnya memutuskan untuk membuat kesepakatan dengan AS, yakni menjual wilayah tersebut.
Andrei Znamenski, seorang profesor sejarah di Universitas Memphis, mengatakan kepada New York Times bahwa seruan untuk merebut kembali Alaska tidak terbatas pada kaum ekstremis Rusia.
"Ini adalah episode yang sangat menguntungkan bagi kaum nasionalis, yang ingin Rusia berekspansi dan mengeksploitasinya. Ini sesuai dengan retorika nasional: Lihat bagaimana Amerika memperlakukan kami," ujarnya.
Para pemimpin Rusia pernah mencoba meredam penyesalan kaum nasionalis penjualan Alaska kepada AS.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pernah mengatakan kepada surat kabar Rusia: "Peringatan ini [momen penjualan Alaska] tentu saja dapat memicu beragam emosi. Namun, ini adalah kesempatan yang baik untuk menyegarkan kembali ingatan akan kontribusi Rusia dalam penjelajahan benua Amerika."
Lihat Juga :