Siapa Ezzedin Al-Haddad? Pemimpin Baru Hamas yang Dijuluki Hantu Al Qassam
Selasa, 15 Juli 2025 - 12:14 WIB
4. Mahir Berbahasa Ibrani
Putra sulung Al-Haddad, Suhaib, dan cucunya tewas dalam serangan udara pada 17 Januari 2025, disusul dengan tewasnya putra keduanya pada bulan April.Seorang mantan sandera Israel, yang bertemu Al-Haddad lima kali selama masa penahanannya, menggambarkan pemimpin berbahasa Ibrani itu sebagai sosok yang tenang, bahkan memerintahkan pengembalian sebuah buku yang ditinggalkan seorang sandera.
Namun, setelah kematian putranya, sikap Al-Haddad menjadi lebih dingin dan getir, sesuatu yang diyakini sandera Israel tersebut sebagai cerminan dari beban pribadi yang ditimbulkan perang terhadapnya.
Awwash mengatakan hampir semua pemimpin Hamas telah menghadapi upaya pembunuhan terhadap anggota keluarga mereka selama bertahun-tahun, sebuah fenomena yang baru mendapatkan momentumnya setelah serangan 7 Oktober.
Keyakinan pada tujuan merekalah yang mendorong para pejuang Hamas untuk melawan pendudukan, dan bukan trauma pribadi, tegas Hawwash. Namun, ia menambahkan bahwa kehilangan orang yang dicintai tentu membuat para pejuang "lebih bertekad" untuk membalas agresi Israel.
Laporan-laporan Barat mengatakan bahwa Al-Haddad lebih pragmatis daripada Sinwar bersaudara yang tak kenal kompromi. Ia mendorong pertukaran sandera-tahanan pada Januari 2024 dan mengupayakan pembebasan lebih lanjut untuk memperpanjang gencatan senjata yang akhirnya runtuh pada bulan Maret.
5. Memiliki Hak Veto
Ia memegang hak veto atas negosiasi gencatan senjata dan sandera, bersikeras pada penarikan penuh Israel dan diakhirinya perang sebelum membebaskan sandera yang tersisa, sebuah poin kunci dalam perundingan gencatan senjata yang saat ini berlangsung di Doha.Sumber berita Barat mengutip pejabat intelijen Arab yang mengatakan bahwa keterbukaan Al-Haddad untuk membahas perlucutan senjata Hamas menandai perubahan signifikan dari posisi para pendahulunya.
Hawwash menanggapi laporan bahwa Al-Haddad lebih pragmatis daripada para pendahulunya dengan skeptis. Ia menegaskan, tidak ada satu pun pemimpin Hamas yang bersedia mengalah dalam isu-isu fundamental seperti mengakhiri perang Israel di Gaza.
Al-Haddad mengupayakan kesepakatan yang mengakhiri agresi Israel, membebaskan sebanyak mungkin sandera Palestina dari penjara Israel, dan membuka jalan bagi upaya pembangunan kembali, kata Hawwash.
“Ini semua adalah tujuan yang diinginkan oleh setiap pemimpin Hamas. Saya tidak melihatnya akan mengambil pendekatan yang berbeda,” ujarnya.
(ahm)
Lihat Juga :