Proposal Nuklir Trump Izinkan Iran Memperkaya Uranium

Selasa, 03 Juni 2025 - 17:28 WIB
Satu perbedaan utama antara kesepakatan 2015 dan proposal Trump adalah kesepakatan tersebut membayangkan konsorsium pengayaan regional yang mencakup Iran.

Beberapa laporan mengatakan Arab Saudi dan UEA, dua mitra utama AS, dapat bergabung dengan Iran sebagai bagian dari konsorsium tersebut.

Negara-negara Teluk dengan keras menentang kesepakatan nuklir 2015, karena mereka terkunci dalam perebutan proksi dengan Iran di seluruh wilayah.

Namun, Riyadh dan Abu Dhabi telah menjalin pemulihan hubungan dengan Republik Islam tersebut selama beberapa tahun terakhir.

Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan setelah kunjungan Trump ke Riyadh pada bulan Mei bahwa kerajaan tersebut "sepenuhnya mendukung" perundingan nuklir.

Gedung Putih tidak mengonfirmasi maupun membantah laporan Axios. Iran belum mengomentarinya.

Pada hari Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan dalam konferensi pers bahwa Teheran tengah mencari klarifikasi mengenai keringanan sanksi yang melemahkan sebagai bagian dari kesepakatan.

"Kami ingin menjamin sanksi dicabut secara efektif," ujar dia. "Sejauh ini, pihak Amerika belum ingin mengklarifikasi masalah ini."

Dewan redaksi Wall Street Journal menerbitkan artikel pada hari Minggu yang mengatakan pemerintahan Trump telah menghentikan semua aktivitas sanksi baru terhadap Iran.

Baca juga: Putin Dipermalukan dengan Serangan Pearl Harbor Rusia, Berikut 3 Penyebabnya
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!