Akankah Operasi Gideon's Chariots Sukses Melemahkan Hamas?

Sabtu, 17 Mei 2025 - 21:21 WIB
"Serangan bom terbaru ini, yang memaksa orang-orang pindah di tengah ancaman serangan yang semakin intensif, penghancuran seluruh lingkungan secara sistematis, dan penolakan bantuan kemanusiaan menggarisbawahi bahwa tampaknya ada dorongan untuk perubahan demografis permanen di Gaza yang bertentangan dengan hukum internasional dan sama saja dengan pembersihan etnis," katanya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan AS "terganggu" oleh situasi tersebut.

Victoria Rose, seorang ahli bedah rekonstruksi Inggris yang bekerja di rumah sakit Nasser di Khan Younis, mengatakan kepada program Weekend BBC World Service bahwa timnya "kelelahan" dan semuanya telah kehilangan "berat badan yang cukup banyak".

"Anak-anak sangat kurus," katanya. "Kami punya banyak anak muda yang giginya tanggal."

"Banyak dari mereka mengalami luka bakar yang cukup serius dan dengan tingkat kekurangan gizi seperti ini, mereka jadi lebih rentan terhadap infeksi dan kemampuan mereka untuk sembuh jauh lebih rendah."

5. Penduduk Gaza Mengalami Kelaparan

Sebuah penilaian yang didukung PBB yang diterbitkan pada hari Senin menemukan bahwa penduduk Gaza berada pada "risiko kritis" kelaparan.

Pemerintah Israel telah berulang kali menolak klaim bahwa ada kekurangan pangan di Gaza.

Israel melancarkan kampanye militer untuk menghancurkan Hamas sebagai tanggapan atas serangan lintas batas kelompok itu pada tanggal 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya. Hamas masih menyandera 58 orang.

Setidaknya 53.000 orang telah tewas di Gaza sejak saat itu, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di wilayah itu.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!