Apa Itu Program Nuklir Iran Serta Apa Maunya AS dan Israel? Ini Penjelasannya

Jum'at, 11 April 2025 - 10:12 WIB
Trump sebelumnya telah memperingatkan bahwa jika Iran tidak membuat kesepakatan baru, "akan ada pengeboman".

Penasihat keamanan nasionalnya Mike Waltz telah mengatakan bahwa Trump menginginkan "pembongkaran penuh" program nuklir Iran, dengan menambahkan: "Itu pengayaan, itu persenjataan, dan itu adalah program rudal strategisnya."

Meskipun Trump mengatakan akan ada "pembicaraan langsung", Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan negosiasi, di Oman, akan bersifat tidak langsung.

Araghchi mengatakan Iran siap untuk terlibat dengan AS, tetapi Trump harus terlebih dahulu menyetujui bahwa tidak boleh ada "opsi militer".

Setelah pengumuman Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan satu-satunya kesepakatan yang dapat diterima adalah Iran setuju untuk menghapus program nuklirnya.

Dia mengatakan itu berarti: "Kami masuk, meledakkan fasilitas, dan membongkar semua peralatan, di bawah pengawasan dan eksekusi Amerika."

Ketakutan terbesar Israel adalah bahwa Trump mungkin menerima kompromi tanpa penyerahan penuh Iran yang dapat ia sajikan sebagai kemenangan diplomatik.

Israel, yang belum menandatangani NPT, diasumsikan memiliki senjata nuklir, sesuatu yang tidak dikonfirmasi atau disangkalnya.

Israel percaya Iran yang bersenjata nuklir, yang tidak menerima hak Israel untuk eksis, akan menimbulkan ancaman besar.

Bisakah AS dan Israel Menyerang Iran?



Baik AS maupun Israel memiliki kemampuan militer untuk mengebom infrastruktur nuklir Iran, tetapi operasi semacam itu akan rumit dan berisiko, dengan hasil yang tidak pasti.

Situs nuklir utama terkubur jauh di bawah tanah, yang berarti hanya bom penghancur bunker yang paling kuat yang mungkin dapat mencapainya. Sementara AS memiliki bom-bom ini, Israel tidak diketahui memilikinya.

Iran hampir pasti akan mempertahankan diri, yang dapat mencakup menyerang aset-aset AS di wilayah tersebut, dan menembakkan rudal ke Israel.

Untuk operasi semacam ini, AS kemungkinan perlu menggunakan pangkalannya di Teluk, serta kapal induk.

Tetapi negara-negara seperti Qatar, yang menjadi tuan rumah pangkalan udara AS terbesar, mungkin tidak setuju untuk membantunya menyerang Iran, karena takut akan pembalasan.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!