Hamas Siap Serahkan Tawanan Israel dan 4 Jasad yang Ditahan di Gaza
Sabtu, 15 Maret 2025 - 00:01 WIB
Israel juga telah mengirim tim negosiator. Tahap pertama gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza berakhir pada tanggal 1 Maret, tanpa kesepakatan mengenai tahap selanjutnya.
Selama enam pekan tahap awal gencatan senjata, Hamas membebaskan 33 tawanan, termasuk delapan yang telah meninggal, sebagai ganti sekitar 1.800 tahanan Palestina, banyak yang ditahan di penjara Israel tanpa dakwaan.
Setelah perjanjian gencatan senjata berakhir tanpa kesepakatan baru, Israel dengan cepat menerapkan blokade total di wilayah Palestina yang terkepung, yang menyebabkan 2,3 juta orang berada di ambang kelaparan massal.
Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera, melaporkan dari Khan Younis, mengatakan warga sipil "menghadapi kekurangan parah dan kronis" akan makanan pokok dan pasokan medis.
Olga Cherevko dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan kepada Al Jazeera bahwa situasinya mengerikan "di berbagai tingkatan".
"Harapan yang muncul saat gencatan senjata dimulai digantikan oleh rasa takut, khawatir, dan khawatir persediaan akan habis," papar dia.
Cherevko mengatakan ketersediaan pangan "bisa memburuk dengan cepat kecuali persediaan dipulihkan".
Enam dari 25 toko roti Program Pangan Dunia terpaksa tutup karena tidak ada bahan bakar untuk mengoperasikannya.
Selama enam pekan tahap awal gencatan senjata, Hamas membebaskan 33 tawanan, termasuk delapan yang telah meninggal, sebagai ganti sekitar 1.800 tahanan Palestina, banyak yang ditahan di penjara Israel tanpa dakwaan.
Setelah perjanjian gencatan senjata berakhir tanpa kesepakatan baru, Israel dengan cepat menerapkan blokade total di wilayah Palestina yang terkepung, yang menyebabkan 2,3 juta orang berada di ambang kelaparan massal.
Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera, melaporkan dari Khan Younis, mengatakan warga sipil "menghadapi kekurangan parah dan kronis" akan makanan pokok dan pasokan medis.
Olga Cherevko dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan kepada Al Jazeera bahwa situasinya mengerikan "di berbagai tingkatan".
"Harapan yang muncul saat gencatan senjata dimulai digantikan oleh rasa takut, khawatir, dan khawatir persediaan akan habis," papar dia.
Cherevko mengatakan ketersediaan pangan "bisa memburuk dengan cepat kecuali persediaan dipulihkan".
Enam dari 25 toko roti Program Pangan Dunia terpaksa tutup karena tidak ada bahan bakar untuk mengoperasikannya.
Lihat Juga :