Asal-usul Yerusalem, Kota Suci 3 Agama yang Diakui Trump sebagai Ibu Kota Israel

Kamis, 13 Februari 2025 - 13:42 WIB
Lima belas tahun kemudian, kota direbut kembali oleh tentara Mesir. Mereka mempertahankan kekuasaan hingga abad ke-15, tepatnya saat kota itu jatuh ke tangan Turki Utsmani.

Selama periode Ottoman, muncul sedikit kehadiran Yahudi di Palestina, tetapi jumlahnya meningkat secara signifikan. Setelah keruntuhan Ottoman, Yerusalem berubah menjadi kota yang lebih terbuka.

Imigrasi Yahudi Eropa ke Yerusalem juga meningkat seiring waktu. Hal ini juga dipandang oleh beberapa sejarawan sebagai momen penting bagi rencana kaum Zionis untuk mendirikan negara Yahudi.

Pada 1900, kaum Yahudi menjadi komunitas besar di kota itu dan memperluas permukiman di luar tembok Kota Tua. Setelah Perang Dunia I, Yerusalem direbut pasukan Inggris di bawah Jenderal Edmund Allenby.

Di tahun yang sama, Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour mengisyaratkan dukungan Pemerintah Inggris terhadap tanah air Yahudi di Palestina. Setelah perang, Yerusalem masih dijadikan ibu kota Palestina, tetapi tetap berada di bawah mandat Inggris.

Menjelang akhir mandat, bangsa Arab dan Yahudi sama-sama berusaha menguasai Yerusalem yang berujung pada perang. Puncaknya, muncul deklarasi berdirinya Negara Israel pada 1948 yang mengeklaim Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Pada Juli 1980, Parlemen Israel menyetujui sebuah RUU yang menegaskan Yerusalem sebagai ibu kota negara yang bersejarah dan tidak terbagi. Tetapi, posisi pemerintahan Israel tetap berada di Tel Aviv sebagaimana diakui oleh PBB.

Seiring waktu, Yerusalem telah menjadi kota besar. Namun, pertikaian antara orang Arab dan Yahudi terus berlanjut sampai sekarang.

Demikian ulasan mengenai asal-usul Yerusalem, kota suci 3 agama yang diakui Trump sebagai Ibu Kota Israel.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!