Asal-usul Yerusalem, Kota Suci 3 Agama yang Diakui Trump sebagai Ibu Kota Israel
Kamis, 13 Februari 2025 - 13:42 WIB
Beberapa waktu bertahan, pada 586 SM, Yerusalem jatuh ke tangan bangsa Babilonia. Nebukadnezar menghancurkan bangunan-bangunan penting di sana termasuk Bait Suci, lalu mengasingkan orang Yahudi.
Sekitar 50 tahun setelahnya, Raja Persia Cyrus mengizinkan orang-orang Yahudi untuk kembali ke Yerusalem dan memperbaiki Bait Suci. Pada 332 SM, kekuasaan kembali berpindah kepada Great Alexander.
Selama beberapa ratus tahun berikutnya, Yerusalem ditaklukkan dan diperintah oleh berbagai penguasa. Di antaranya termasuk Romawi, Persia, Arab, Fatimiyah, Turki Seljuk, Tentara Salib, Mesir, Mamluk, dan lainnya.
Pada era Romawi, kota Betlehem dekat Yerusalem dipercaya menjadi saksi kelahiran Yesus Kristus. Yesus mengajarkan pentingnya menyembah satu Tuhan di kota Nazaret dan Galilea, dia lalu diadili karena dianggap sebagai pemberontak dan nabi palsu.
Umat Kristen percaya bahwa Yesus kemudian disalib. Momen ini menjadi pilar utama agama Kristen dan tempat penyalibannya yang diduga di Yerusalem menjadi tempat tersuci dalam agama tersebut.
Pada 638 M (Masehi), terjadi penyebaran agama baru yang pesat di wilayah tersebut, yakni Islam. Setelahnya, kota direbut oleh pasukan yang dipimpin oleh Abu Ubaidah di bawah kekhalifahan Umar bin al-Khattab dan menandai kedatangan Islam ke Palestina.
Memasuki abad ke-11, Islam telah berada di wilayah tersebut selama lebih dari 500 tahun. Kota ini kemudian memperoleh reputasi dunia sebagai kota tiga agama, termasuk Kristen dan Yahudi.
Namun, kekuasaan Fatimiyah kala itu memerangi ekspansionisme Kristen. Pada 1099 M, Yerusalem ditaklukkan oleh Tentara Salib dan penduduknya dibantai.
Pada 1187 M, Islam di bawah pimpinan Salah al-Din merebut kembali Yerusalem. Setelah itu, kekuasaan beralih ke Mamluk dan kemudian ke Ottoman.
Sekitar tahun 1228 M, Perang Salib keenam terjadi di pesisir Palestina. Setahun berlangsung, kaisar Jerman, Frederick II, menobatkan dirinya sebagai raja Yerusalem.
Sekitar 50 tahun setelahnya, Raja Persia Cyrus mengizinkan orang-orang Yahudi untuk kembali ke Yerusalem dan memperbaiki Bait Suci. Pada 332 SM, kekuasaan kembali berpindah kepada Great Alexander.
Selama beberapa ratus tahun berikutnya, Yerusalem ditaklukkan dan diperintah oleh berbagai penguasa. Di antaranya termasuk Romawi, Persia, Arab, Fatimiyah, Turki Seljuk, Tentara Salib, Mesir, Mamluk, dan lainnya.
Pada era Romawi, kota Betlehem dekat Yerusalem dipercaya menjadi saksi kelahiran Yesus Kristus. Yesus mengajarkan pentingnya menyembah satu Tuhan di kota Nazaret dan Galilea, dia lalu diadili karena dianggap sebagai pemberontak dan nabi palsu.
Umat Kristen percaya bahwa Yesus kemudian disalib. Momen ini menjadi pilar utama agama Kristen dan tempat penyalibannya yang diduga di Yerusalem menjadi tempat tersuci dalam agama tersebut.
Pada 638 M (Masehi), terjadi penyebaran agama baru yang pesat di wilayah tersebut, yakni Islam. Setelahnya, kota direbut oleh pasukan yang dipimpin oleh Abu Ubaidah di bawah kekhalifahan Umar bin al-Khattab dan menandai kedatangan Islam ke Palestina.
Memasuki abad ke-11, Islam telah berada di wilayah tersebut selama lebih dari 500 tahun. Kota ini kemudian memperoleh reputasi dunia sebagai kota tiga agama, termasuk Kristen dan Yahudi.
Namun, kekuasaan Fatimiyah kala itu memerangi ekspansionisme Kristen. Pada 1099 M, Yerusalem ditaklukkan oleh Tentara Salib dan penduduknya dibantai.
Pada 1187 M, Islam di bawah pimpinan Salah al-Din merebut kembali Yerusalem. Setelah itu, kekuasaan beralih ke Mamluk dan kemudian ke Ottoman.
Sekitar tahun 1228 M, Perang Salib keenam terjadi di pesisir Palestina. Setahun berlangsung, kaisar Jerman, Frederick II, menobatkan dirinya sebagai raja Yerusalem.
Lihat Juga :