Seteru Memanas, Ukraina Ingin Gantikan Hongaria di NATO

Jum'at, 10 Januari 2025 - 08:09 WIB
"Pernyataan manipulatif terbaru dari pimpinan Hongaria mengenai keputusan Ukraina untuk tidak memperpanjang perjanjian transit dengan negara agresor, Rusia, mulai tahun 2025 dan seterusnya, yang diduga berdampak negatif pada harga konsumen, merupakan bagian dari kampanye informasi bermotif politik yang ditujukan untuk konsumsi dalam negeri," kata Kementerian Luar Negeri Ukraina.

"Komisi Eropa dengan jelas mengindikasikan bahwa keputusan Ukraina yang diumumkan sebelumnya tidak berdampak buruk pada keamanan energi negara-negara Uni Eropa atau harga konsumen di pasar Eropa," lanjut kementerian tersebut, yang dilansir Newsweek, Jumat (10/1/2025).

Kementerian itu mengatakan bahwa hanya dua dari 27 negara Uni Eropa yang berjuang untuk mengamankan ekonomi dan warga negara mereka dengan pasokan energi alternatif dari Amerika Serikat dan Timur Tengah.

Lebih lanjut, kementerian itu mengatakan kedua negara, yang tidak disebutkan namanya, dalam upaya mempertahankan hubungan energi dengan Rusia telah secara efektif menghalangi akses ke pasar energi Eropa untuk sumber daya dari Amerika Serikat dan mitra lainnya.

"Jika pihak Hongaria memprioritaskan penguatan Rusia daripada Uni Eropa dan Amerika Serikat, mereka harus mengakuinya secara terbuka. Ukraina akan siap mengisi kekosongan di Uni Eropa dan NATO jika Hongaria memilih untuk mengosongkannya demi keanggotaan di CIS atau CSTO [Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif dan Persemakmuran Negara-negara Merdeka]," papar Kementerian Luar Negeri Ukraina.

Menteri Luar Negeri Hongaria Péter Szijjártó mengkritik rancangan undang-undang (RUU) Parlemen Ukraina yang mengusulkan penutupan rute transportasi gas alam dan minyak bumi dari Rusia selama keadaan perang, menganggapnya "tidak dapat diterima" dalam sebuah posting di Facebook.

Szijjártó menulis: "Kyiv perlu fokus pada realitas: di negara-negara anggota Uni Eropa, keputusan diambil dengan suara bulat tentang perekrutan anggota baru. Dengan kata lain, setiap negara anggota harus memberikan suara ya."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!