AS Kurangi Impor Garmen dari China, Untungkan Sejumlah Negara Asia

Selasa, 10 Desember 2024 - 09:37 WIB
China mengalami kerugian yang cukup signifikan, dan hal tersebut telah memberikan peluang bagi negara-negara Asia lainnya untuk meningkatkan ekspor mereka ke AS. Negara-negara tersebut telah memanfaatkan kekuatan mereka untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan China.

Vietnam



Vietnam telah menjadi penerima manfaat terbesar, memperkuat posisinya sebagai pemasok utama pasar pakaian jadi AS. Kedekatan negara itu dengan China telah memungkinkannya untuk memanfaatkan infrastruktur rantai pasokan yang ada sambil menawarkan biaya yang lebih rendah.

Selain itu, Vietnam telah menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan mitra global utama, termasuk Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP), yang meningkatkan daya saingnya.

Bangladesh



Dikenal karena keahliannya dalam memproduksi pakaian jadi, Bangladesh telah memperluas pijakannya di pasar AS dengan menawarkan harga kompetitif dan kemampuan produksi skala besar.

Investasi dalam keberlanjutan dan kepatuhan terhadap standar ketenagakerjaan internasional semakin meningkatkan daya tariknya bagi pembeli Amerika.

India



India muncul sebagai pesaing kuat, terutama dalam kategori seperti pakaian katun dan tekstil.

Inisiatif pemerintah seperti skema Insentif Terkait Produksi (PLI) dan fokus pada peningkatan kapasitas manufaktur telah memungkinkan eksportir India untuk memanfaatkan peluang yang diciptakan pangsa pasar China yang menurun.

Kamboja



Sektor garmen Kamboja juga mengalami pertumbuhan, dan hal ini berkat perjanjian perdagangan preferensial dan biaya tenaga kerja yang kompetitif.

Meski menghadapi tantangan seperti infrastruktur yang terbatas, negara tersebut berhasil menarik pembeli AS yang mencari alternatif selain China. Distribusi ulang pangsa pasar di antara negara-negara Asia memiliki implikasi yang luas bagi industri pakaian global.

Diversifikasi Rantai Pasokan



Perusahaan-perusahaan AS semakin mengadopsi strategi “China plus satu”, mendiversifikasi rantai pasokan mereka untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara.

Tren ini tidak hanya mengurangi risiko terkait ketegangan geopolitik, tetapi juga memastikan ketahanan yang lebih besar terhadap gangguan seperti pandemi Covid-19.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!