Siapa Oleksandra Matviichuk? Pengacara Cantik Ukraina yang Ingin Mengadili Presiden Putin

Senin, 15 Juli 2024 - 19:55 WIB
Mereka mulai mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia di Ukraina, negara tetangga Belarus dan Rusia, termasuk protes terhadap kembalinya Putin ke kursi kepresidenan pada tahun 2012 yang berakhir dengan ratusan hukuman.

Pada tahun 2007 juga Matviichuk menerima hadiah pertamanya, sebuah penghargaan yang diambil dari nama salah satu idola remajanya, Vasyl Stus, seorang penyair dan pembangkang Ukraina yang meninggal di penjara pada tahun 1985.

Matviichuk berhenti dari pekerjaannya di bank untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya pada pusat tersebut setelah Viktor Yanukovych, seorang tokoh pro-Kremlin dari wilayah Donbas di Ukraina timur, terpilih sebagai presiden pada tahun 2010.

Sebagai mantan narapidana dan populis, Yanukovych berusaha menjauhkan Ukraina dari sikapnya yang pro-Barat.

Unjuk rasa menentang kebijakannya yang disebut protes Euromaidan dimulai pada bulan November 2013 di Lapangan Kemerdekaan Kyiv.

Saat Matviichuk mengadakan pelatihan untuk aktivis hak asasi manusia dari seluruh Ukraina di dekatnya, polisi memukuli pengunjuk rasa.

Dia dan murid-muridnya memutuskan untuk membentuk kelompok SOS–Euromaidan, yang membantu para pengunjuk rasa yang ditangkap, dipukuli, diberi gas air mata, ditahan dan disiksa oleh polisi dan pendukung pro-Yanukovych.

Anggota kelompok tersebut menghadapi ancaman. Beberapa menerima undangan yang tidak menyenangkan ke kantor kejaksaan. Yang lainnya disambut oleh preman bersenjata di dekat rumah mereka.

6. Mengakut Mengalami Rasa Takut

Pada akhir Februari 2014, panggilan telepon membanjiri hotline kelompok tersebut ketika pengunjuk rasa bentrok dengan polisi. Lusinan orang ditembak oleh penembak jitu yang menurut para aktivis dan pemerintah sementara Ukraina dikerahkan oleh pemerintahan Yanukovych.

Selama kekacauan, suami Matviichuk, Oleksandr, meneleponnya untuk mengucapkan selamat tinggal karena dialah yang menjadi pusat kekerasan.

Matviichuk mengatakan dia belum pernah setakut ini seumur hidupnya.

Yanukovych melarikan diri ke Rusia, dan dalam beberapa hari, dia mengirim kelompok pengamat pertama ke Krimea saat Moskow bersiap untuk mencaplok semenanjung tersebut.

Negara-negara Barat menanggapi aneksasi tersebut dengan kecaman dan sanksi – namun tetap membeli bahan bakar Rusia.

Matviichuk masih menyalahkan Barat atas kelambanan tindakan yang membuat Kremlin percaya bahwa “mereka bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan,” katanya.

Aneksasi Krimea dan dukungan Moskow terhadap separatis pro-Rusia di Donbas memicu gelombang pelanggaran HAM baru, termasuk penangkapan pembuat film Krimea Oleh Sentsov.

Pengadilan Rusia menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara padanya pada tahun 2015 karena “terorisme”. Matviichuk berkampanye untuk pembebasannya hingga dia dibebaskan pada tahun 2019.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!