Rusia Gagalkan Pembajakan Pesawat Pengebom
Senin, 08 Juli 2024 - 21:50 WIB
Rusia gagalkan pembajakan pembajakan pesawat pengebom. Foto/Reuters
MOSKOW - Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menggagalkan upaya Ukraina untuk mengatur pembajakan pesawat pembom strategis Tu-22M3 Rusia dan menerbangkannya ke Ukraina.
“Intelijen Ukraina bermaksud merekrut seorang pilot militer Rusia untuk mendapatkan imbalan uang dan memberikan kewarganegaraan Italia, untuk membujuknya agar menerbangkan dan mendaratkan kapal induk rudal di Ukraina,” kata FSB, penerus utama KGB era Soviet, dilansir Reuters.
Reuters tidak dapat memverifikasi rinciannya secara independen. Dinas Keamanan Ukraina (SBU) belum segera menanggapi permintaan komentar Reuters.
Selama operasi tersebut, FSB menyatakan Rusia menerima informasi yang membantu pasukannya menyerang lapangan terbang Ozerne di barat laut Ukraina.
Waktu operasi dan dugaan serangan di lapangan terbang Ozerne di Zhytomyr, Ukraina, masih belum jelas.
Wilayah Zhytomyr berada dalam peringatan serangan udara pada Senin dini hari. Laporan tidak resmi di media sosial, termasuk aplikasi pesan Telegram yang banyak digunakan oleh pejabat dan militer di kedua negara untuk menyebarkan informasi, menyebutkan terjadi ledakan di Zhytomyr.
“Intelijen Ukraina bermaksud merekrut seorang pilot militer Rusia untuk mendapatkan imbalan uang dan memberikan kewarganegaraan Italia, untuk membujuknya agar menerbangkan dan mendaratkan kapal induk rudal di Ukraina,” kata FSB, penerus utama KGB era Soviet, dilansir Reuters.
Reuters tidak dapat memverifikasi rinciannya secara independen. Dinas Keamanan Ukraina (SBU) belum segera menanggapi permintaan komentar Reuters.
Selama operasi tersebut, FSB menyatakan Rusia menerima informasi yang membantu pasukannya menyerang lapangan terbang Ozerne di barat laut Ukraina.
Waktu operasi dan dugaan serangan di lapangan terbang Ozerne di Zhytomyr, Ukraina, masih belum jelas.
Wilayah Zhytomyr berada dalam peringatan serangan udara pada Senin dini hari. Laporan tidak resmi di media sosial, termasuk aplikasi pesan Telegram yang banyak digunakan oleh pejabat dan militer di kedua negara untuk menyebarkan informasi, menyebutkan terjadi ledakan di Zhytomyr.
Lihat Juga :