Keluarga Terkejut Tak Ada Pemakaman Militer untuk Tentara Mesir yang Ditembak Israel

Rabu, 29 Mei 2024 - 07:57 WIB
“Ya Tuhan, kedamaian total untuk Gaza,” tulis postingan bertanggal 7 Februari itu.

Dalam postingan sebelumnya, dia menulis: "Hati saya sakit, mata saya berlinang air mata, dan Gaza dekat, namun dunia tuli, bisu, buta... Keheningan adalah ekspresi ketidakberdayaan."

Ramadan lulus dari perguruan tinggi di Fayium dan wajib militer selama dua tahun sebagai penjaga perbatasan di Sinai Utara, menurut keluarga dan teman-temannya.

“Dia seharusnya memulai prosedur untuk menjadi warga sipil lagi pada bulan Agustus dan dibebaskan pada bulan September,” ungkap Samir Abu Atwa, yang kuliah di perguruan tinggi yang sama dengan Ramadan, mengatakan kepada MEE.

“Dia religius dan menyukai sepak bola,” papar Abu Atwa.

“Pada liburan terakhirnya dari dinas, dia bercerita kepada kami tentang para korban pemboman dan keluarga dari Gaza yang melintasi perbatasan ke Mesir,” ujar dia.

“Ramadan berencana menikah setelah selesai mengabdi,” ungkap Abu Atwa.

Dia Salah Satu dari Kita



Pemakaman Ramadan dihadiri keluarga dan teman-teman, tanpa kehadiran perwira militer senior. Acara tersebut diadakan di kampung halamannya di al-Ajamiyyin, dekat Fayium, 110 km selatan Kairo.

“Ini adalah situasi yang mengerikan karena kami mengetahui kematiannya dari Facebook dan bukan dari utusan resmi atau kantor wajib militer di kota tersebut,” ungkap sepupu Ramadan kepada MEE.

Dia mengatakan, hanya seorang mayor tentara dan kolonel polisi dari direktorat keamanan Fayium yang menghadiri pemakaman tersebut.

“Sangat menyakitkan bagi kami karena dia tidak dihormati, namun tradisi kami di desa ini adalah menghormati orang yang meninggal berarti mengantarkan mereka ke tempat peristirahatan terakhir mereka,” ujar Abu Ahmed.

Banyak orang dari komunitas Ramadan dan desa-desa sekitarnya berkumpul untuk berduka atas kematiannya.

“Kami menemukan lusinan orang yang tidak kami kenal dan dari desa-desa terdekat datang untuk memberikan penghormatan. Bahkan keluarga yang berselisih dengan kami, datang untuk membantu kami dan memastikan kami tidak kerepotan,” papar Abu Ahmed.

Beberapa warga Mesir di media sosial mengkritik pihak berwenang karena kurangnya transparansi dan pengakuan terhadap tentara yang terbunuh tersebut.

“Syuhada, tentara Mesir Abdallah Ramadan, yang dibunuh Zionis di perbatasan Rafah, dimakamkan di antara orang-orang miskin di kotanya di Fayium. Tidak ada anjing resmi yang menghadiri pemakaman martir negara tersebut, tidak ada gubernur, tidak ada komandan militer, bahkan presiden dewan kota pun tidak,” tulis jurnalis Mesir, Gamal Sultan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!