5 Kamp Pengungsi Terbesar di Dunia, Nomor 4 Menampung Ratusan Ribuan Warga Rohingya

Selasa, 26 Desember 2023 - 21:21 WIB
Foto/Reuters

Kutupalong mulai berkembang sebagai tempat berlindung di seberang perbatasan Burma pada tahun 1991, namun bentrokan bersenjata pada tahun 2017 di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, menyebabkan migrasi terbesar ribuan orang Rohingya yang meninggalkan rumah mereka untuk pergi ke kamp. Hal ini memaksa para pejabat Bangladesh untuk membangun sebuah kamp yang mampu menampung lebih dari 800.000 orang yang mencari perlindungan.

Saat ini, dengan populasi pengungsi melebihi 860.000 (setengahnya adalah anak-anak), kamp ini merupakan kamp pengungsi terbesar di dunia, menempati area seluas sekitar 13 km persegi.

Di Kutupalong, pengungsi Rohingya menghadapi berbagai kesulitan, salah satunya adalah musim hujan yang membawa banjir besar dan menghancurkan banyak tempat penampungan. Pengungsi tinggal di rumah bertingkat rendah yang terletak di dataran banjir yang terjebak dalam lumpur.

Pelayanan publik termasuk rumah sakit dan sekolah tidak dapat diakses. Karena tidak ada layanan darurat sama sekali, kebakaran sering kali menghancurkan rumah-rumah beserta segala sesuatu yang dilaluinya.

Pemerintah Bangladesh telah berupaya mengatasi masalah perencanaan kota Kutupalong selama bertahun-tahun, namun masuknya imigran yang terus menerus membuat hal ini hampir mustahil dilakukan.

5. Kompleks Dadaab dari 3 kamp di Kenya

Terletak di Garissa County, Kenya, hampir 725 km dari kamp pengungsi Kakuma, kompleks pengungsi Dadaab terdiri dari tiga kamp yang lebih kecil – Hagadera, Dagahaley, dan Ifo.

Data terbaru menunjukkan bahwa kompleks tersebut menampung lebih dari 230.000 pengungsi, sebagian besar warga Somalia, beberapa di antaranya melarikan diri dari negara tersebut akibat konflik pada tahun 1991, sementara yang lain mencari perlindungan karena bencana kekeringan dan kelaparan yang terjadi 20 tahun kemudian.

Masyarakat dapat memperoleh manfaat dari berbagai fasilitas, termasuk jamban, lubang bor, tempat kran air, fasilitas pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan keamanan, serta pasar dan organisasi keuangan. Namun, dengan semakin banyaknya orang yang mengenal kamp-kamp yang sudah penuh sesak, akses terhadap fasilitas-fasilitas penting akan terus terbatas.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!