Eks Perdana Menteri China Li Keqiang Meninggal setelah Serangan Jantung

Jum'at, 27 Oktober 2023 - 10:25 WIB
Namun pada masa jabatannya, terjadi pergeseran dramatis kekuasaan di China dari pemerintahan yang lebih berbasis konsensus seperti yang dianut oleh mantan pemimpin Hu Jintao dan para pendahulunya, ke kekuasaan Xi Jinping yang lebih terkonsentrasi.

Hal ini juga menyebabkan perekonomian China mulai melambat dibandingkan dengan tingkat yang sangat tinggi yang dialami pada tahun 1990-an dan 2000-an.

Ketika Li meninggalkan jabatannya, perekonomian China mengalami pertumbuhan terendah dalam beberapa dekade, terpukul oleh perlambatan yang disebabkan oleh Covid-19 dan krisis di pasar perumahan.

Penunjukan sekutu Xi, Li Qiang—mantan bos Partai Komunis China di Shanghai—sebagai penggantinya tahun ini dipandang sebagai tanda bahwa agenda reformisnya telah gagal karena Beijing memperketat cengkeramannya atas perlambatan ekonomi.

Namun dalam pidato terakhirnya sebagai perdana menteri, Li melontarkan nada optimistis, dengan mengatakan perekonomian China "melakukan pemulihan yang stabil dan menunjukkan potensi besar serta momentum untuk pertumbuhan lebih lanjut".

“Dengan mengatasi kesulitan dan tantangan yang besar, kami berhasil mempertahankan kinerja perekonomian yang stabil secara keseluruhan," katanya saat itu.

“Selalu ada perasaan bahwa Li adalah benteng terakhir akal dan hati di era ideologis ini,” kata sejarawan Jeremiah Jenne dalam sebuah posting-an di platform media sosial X, yang sebelumnya bernama Twitter.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!