10 Kuburan Massal Ini Jadi Saksi Tragedi Kemanusiaan
Minggu, 19 Juli 2020 - 11:58 WIB
Meskipun tentara pendukung Konfederasi dan pendukung Serikat dimakamkan di sini, sisa-sisa prajurit yang berjuang untuk Serikat dimakamkan kembali di tempat lain setelah perang. Hari ini Pulau Hart digunakan oleh New York sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi kaum miskin, tunawisma, dan orang sakit.
8. Kuburan Massal Pulau Kepiting (Crab Island)
Pulau yang terletak di bagian utara New York di Danau Champlain digunakan sebagai rumah sakit selama Perang tahun 1814 dari Plattsburgh untuk pasukan Amerika dan Inggris. Menjadi pulau terdekat dengan tanah di mana konflik terjadi, banyak orang mati – beberapa di antaranya terdampar di pantai – yang diletakkan berderet dalam situs kuburan massal di selatan rumah sakit.
Semua mayat kecuali prajurit tingkat atas, ditumpuk dalam kuburan masal tanpa nama. Tahun 1908 kuburan dengan mayat yang memiliki nama dan identitas yang berbeda, diperingati dengan dibuatkan obelisk granit oleh pemerintah AS.
9. Kuburan Massal Duraiappa
Duraiappa adalah sebuah stadion olahraga di Sri Lanka. Stadion olahraga ini hanya salah satu saksi dari korban perang sipil Sri Lanka yang menelan korban tewas hingga lebih dari 65.000 orang. Stadion ini dulunya rusak secara struktural dan ditinggalkan selama konflik, lalu direnovasi tahun 1999 yang seharusnya menjadi lebih nyaman.
Sampai beberapa pekerja yang menggali pondasi Boney. Apa yang ditemukan adalah, sisa-sisa kerangka yang dipadatkan dari 25 mayat, dua di antaranya adalah anak-anak.
10. Kuburan Massal Maguindanao
Pembantaian Maguindana atau Ampatuan terjadi pada 2009 di Filipina. Sebanyak 58 korban tewas ditemukan di kuburan massal di kota Ampatuan di Pulau Mindanao.
Para korban kekerasan politik itu sebelumnya telah diculik sebelum dibunuh. Tiga puluh empat korban diidentifikasi sebagai jurnalis. Pembunuhan massal terjadi di tengah kampanye politik yang kontroversial.
Pertumpahan darah dimulai ketika Esmael Mangudadatu, wakil mayor Buluan, bersama dengan sekelompok pendukung dan wartawan sedang dalam perjalanan mengajukan surat-surat untuk pencalonannya. Karavan mereka dihentikan oleh seratus orang bersenjata yang telah dikirim oleh saingan politik Mangudadatu, Andal Ampatuan Sr.
Tidak ada negara yang kebal terhadap kekerasan. Di seluruh dunia pergolakan politik dan kekerasan lazim berujung pada pertumpahan darah dan kematian. Kuburan massal jadi saksinya.
Sumber: www.worldatlas.com
8. Kuburan Massal Pulau Kepiting (Crab Island)
Pulau yang terletak di bagian utara New York di Danau Champlain digunakan sebagai rumah sakit selama Perang tahun 1814 dari Plattsburgh untuk pasukan Amerika dan Inggris. Menjadi pulau terdekat dengan tanah di mana konflik terjadi, banyak orang mati – beberapa di antaranya terdampar di pantai – yang diletakkan berderet dalam situs kuburan massal di selatan rumah sakit.
Semua mayat kecuali prajurit tingkat atas, ditumpuk dalam kuburan masal tanpa nama. Tahun 1908 kuburan dengan mayat yang memiliki nama dan identitas yang berbeda, diperingati dengan dibuatkan obelisk granit oleh pemerintah AS.
9. Kuburan Massal Duraiappa
Duraiappa adalah sebuah stadion olahraga di Sri Lanka. Stadion olahraga ini hanya salah satu saksi dari korban perang sipil Sri Lanka yang menelan korban tewas hingga lebih dari 65.000 orang. Stadion ini dulunya rusak secara struktural dan ditinggalkan selama konflik, lalu direnovasi tahun 1999 yang seharusnya menjadi lebih nyaman.
Sampai beberapa pekerja yang menggali pondasi Boney. Apa yang ditemukan adalah, sisa-sisa kerangka yang dipadatkan dari 25 mayat, dua di antaranya adalah anak-anak.
10. Kuburan Massal Maguindanao
Pembantaian Maguindana atau Ampatuan terjadi pada 2009 di Filipina. Sebanyak 58 korban tewas ditemukan di kuburan massal di kota Ampatuan di Pulau Mindanao.
Para korban kekerasan politik itu sebelumnya telah diculik sebelum dibunuh. Tiga puluh empat korban diidentifikasi sebagai jurnalis. Pembunuhan massal terjadi di tengah kampanye politik yang kontroversial.
Pertumpahan darah dimulai ketika Esmael Mangudadatu, wakil mayor Buluan, bersama dengan sekelompok pendukung dan wartawan sedang dalam perjalanan mengajukan surat-surat untuk pencalonannya. Karavan mereka dihentikan oleh seratus orang bersenjata yang telah dikirim oleh saingan politik Mangudadatu, Andal Ampatuan Sr.
Tidak ada negara yang kebal terhadap kekerasan. Di seluruh dunia pergolakan politik dan kekerasan lazim berujung pada pertumpahan darah dan kematian. Kuburan massal jadi saksinya.
Sumber: www.worldatlas.com
(poe)
Lihat Juga :