Cari Kapal Taiwan Pembawa 21 WNI, AS Andalkan Satelit
Rabu, 18 Maret 2015 - 15:41 WIB
Cari Kapal Taiwan Pembawa 21 WNI, AS Andalkan Satelit
A
A
A
JAKARTA - Pencarian kapal pencari ikan Taiwan, Hsiang Fu Chuen, yang membawa 49 orang, termasuk 21 Warga Negara Indonesia (WNI) ikut dibantu Amerika Serikat yang mengandalkan satelit. Sampai saat ini, nasib 21 WNI yang ada di kapal Taiwan itu belum jelas.Tim gabungan pencari kapal yang terdiri dari Argentina, Amerika Serikat (AS) dan Taiwan belum menemukan jejak kapal nahas itu.
"Tim pencari belum menemukan apapun, baik itu serpihan kapal atau pun sisa-sisa bahan bakar," ucap Direktur Perlindungan Warga Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal, Rabu (18/3/2015).
Pencarian kapal itu telah dilakukan dari berbagai arah. Pencarian, selain menggunakan kapal juga menggunakan pesawat. Bahkan, AS menggunakan satelit yang mereka miliki untuk membantu mencari kapal yang hilang tersebut.
Menurut Iqbal, berdasarkan kesimpulan sementara yang dibuat oleh tim pencari Argentina, titik terakhir hilang kontak kapal itu mungkin bukan lokasi kapal itu berada. "Ada kemungkinan pada 26 Februari 2015 pukul 05.00 pagi, saat masih bisa dihubungi, kapal itu masih berlayar tapi tanpa tenaga," ujarnya.
Proses pencarian sendiri rencananya akan dilakukan hingga minggu pertama April mendatang. Bila sampai tenggat waktu habis, dan kapal belum ditemukan maka pemerintah Taiwan disarankan untuk menyatakan bahwa kapal itu benar-benar hilang, sehingga proses pemberian kompensasi terhadap keluarga ABK bisa segera dilakukan.
"Tim pencari belum menemukan apapun, baik itu serpihan kapal atau pun sisa-sisa bahan bakar," ucap Direktur Perlindungan Warga Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri Indonesia, Lalu Muhammad Iqbal, Rabu (18/3/2015).
Pencarian kapal itu telah dilakukan dari berbagai arah. Pencarian, selain menggunakan kapal juga menggunakan pesawat. Bahkan, AS menggunakan satelit yang mereka miliki untuk membantu mencari kapal yang hilang tersebut.
Menurut Iqbal, berdasarkan kesimpulan sementara yang dibuat oleh tim pencari Argentina, titik terakhir hilang kontak kapal itu mungkin bukan lokasi kapal itu berada. "Ada kemungkinan pada 26 Februari 2015 pukul 05.00 pagi, saat masih bisa dihubungi, kapal itu masih berlayar tapi tanpa tenaga," ujarnya.
Proses pencarian sendiri rencananya akan dilakukan hingga minggu pertama April mendatang. Bila sampai tenggat waktu habis, dan kapal belum ditemukan maka pemerintah Taiwan disarankan untuk menyatakan bahwa kapal itu benar-benar hilang, sehingga proses pemberian kompensasi terhadap keluarga ABK bisa segera dilakukan.
(mas)