Prancis Harap Pertemuan Minsk Hasilkan Perjanjian Damai
Rabu, 11 Februari 2015 - 10:49 WIB
Prancis Harap Pertemuan Minsk Hasilkan Perjanjian Damai
A
A
A
PARIS - Presiden Prancis, Francois Hollande menaruh harapan besar pada pertemuan empat arah yang digelar di Minsk, Belarusia. Dirinya berharap pertemuan ini bisa menghasilkan perjanjian damai, sebagai langkah awal penyelesaikan konflik di Ukraina.
"Saya berharap ada perjanjian damai yang muncul dalam pertemuan ini. Kita harus tegas kali ini, tidak ada lagi kompromi. Solusi untuk menyelesaikan konflik Ukraina harus segera ditemukan," ucap Hollande dalam sebuah pernyataan.
Melansir Itar-tass, Rabu (11/2/2015), Hollande juga turut menyatakan, diskusi mengenai dasar-dasar perjanjian damai terus berlangsung hingga saat ini. Menurutnya, pertemuan yang berlangsung sore hari ini sangatlah vital, mengingat perkembangan situasi di Ukraina.
"Pertempuran terus terjadi di Ukraina. Banyak orang yang tewas akibat konflik yang terus menerus bergulir di Ukraina timur," Hollande menambahkan.
Pertemuan empat arah dengan format pertemuan normandi ini sendiri selain dihadiri oleh Hollande, akan turut dihadiri oleh Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Ukraina Petro Poroshenko, dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
"Saya berharap ada perjanjian damai yang muncul dalam pertemuan ini. Kita harus tegas kali ini, tidak ada lagi kompromi. Solusi untuk menyelesaikan konflik Ukraina harus segera ditemukan," ucap Hollande dalam sebuah pernyataan.
Melansir Itar-tass, Rabu (11/2/2015), Hollande juga turut menyatakan, diskusi mengenai dasar-dasar perjanjian damai terus berlangsung hingga saat ini. Menurutnya, pertemuan yang berlangsung sore hari ini sangatlah vital, mengingat perkembangan situasi di Ukraina.
"Pertempuran terus terjadi di Ukraina. Banyak orang yang tewas akibat konflik yang terus menerus bergulir di Ukraina timur," Hollande menambahkan.
Pertemuan empat arah dengan format pertemuan normandi ini sendiri selain dihadiri oleh Hollande, akan turut dihadiri oleh Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Ukraina Petro Poroshenko, dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
(esn)