Jatuh Nyaris Vertikal, Gerak AirAsia QZ8501 di Tepi Nalar
Jum'at, 02 Januari 2015 - 09:20 WIB
Jatuh Nyaris Vertikal, Gerak AirAsia QZ8501 di Tepi Nalar
A
A
A
JAKARTA - Pesawat AirAsia QZ8501 pembawa 162 orang yang jatuh pada hari Minggu lalu, bergerak seperti “di tepi nalar” dan jatuh dalam posisi nyaris vertikal. Demikian analisa para ahli penerbangan.
Menurut ahli penerbangan Indonesia, Gerry Soejatman, yang mengutip bocoran informasi dari tim investigasi kecelakaan udara, mengatakan, perilaku pesawat itu sebelum jatuh benar-benar seperti di tepi logika.
“Airbus 320-200 naik dengan cara yang tidak mungkin dicapai oleh pilot, kemudian tidak jatuh dari langit seperti pesawat terbang,” katanya kepada Fairfax Media.
”Rasanya seperti sepotong logam yang dilemparkan ke bawah. Ini sangat sulit untuk dipahami. Cara jatuh nyaris di tepi logika,” katanya lagi.
Soejatman mengatakan bahwa ada hal yang membingungkan ketika pesawat disebut terbang dengan kecepatan yang sangat rendah ketika hendak jatuh ke daratan. Terlebih kecepatan serendah 61 knot.
Namun, dia percaya pesawat itu jatuh hampir tegak lurus ke bawah, sehingga mengapa kemudian puing pesawat ditemukan di laut yang hanya 10 km dari titik terakhir kontak dengan radar.
Tapi ahli penerbangan Australia, Peter Marosszeky, dari University of New South Wales, membantah, salah satu analisa itu. Menurutnya, tidak mungkin pesawat QZ8501 jatuh se ekstrem seperti yang digambarkan.
Menurutnya, tidak mungkin pesawat itu menaikkan ketinggian di wilayah tropis, karena itu domain pesawat jet tempur. Kendati demikian, kedua ahli ini sepakat kebenaran analisa yang jitu tetap dibuktikan dengan data rekaman di black box atau kotak hitam pesawat.
Badan Investigasi Kecelakaan Prancis atau BEA pada hari ini (2/1/2014) dijadwalkan tiba di area pencarian pesawat AirAsia QZ8501 untuk mencari kotak hitam. Pakar dari Prancis turut dilibatkan, karena perusahaan pesawat Airbus 320-200 itu berbasis di Prancis.
Menurut ahli penerbangan Indonesia, Gerry Soejatman, yang mengutip bocoran informasi dari tim investigasi kecelakaan udara, mengatakan, perilaku pesawat itu sebelum jatuh benar-benar seperti di tepi logika.
“Airbus 320-200 naik dengan cara yang tidak mungkin dicapai oleh pilot, kemudian tidak jatuh dari langit seperti pesawat terbang,” katanya kepada Fairfax Media.
”Rasanya seperti sepotong logam yang dilemparkan ke bawah. Ini sangat sulit untuk dipahami. Cara jatuh nyaris di tepi logika,” katanya lagi.
Soejatman mengatakan bahwa ada hal yang membingungkan ketika pesawat disebut terbang dengan kecepatan yang sangat rendah ketika hendak jatuh ke daratan. Terlebih kecepatan serendah 61 knot.
Namun, dia percaya pesawat itu jatuh hampir tegak lurus ke bawah, sehingga mengapa kemudian puing pesawat ditemukan di laut yang hanya 10 km dari titik terakhir kontak dengan radar.
Tapi ahli penerbangan Australia, Peter Marosszeky, dari University of New South Wales, membantah, salah satu analisa itu. Menurutnya, tidak mungkin pesawat QZ8501 jatuh se ekstrem seperti yang digambarkan.
Menurutnya, tidak mungkin pesawat itu menaikkan ketinggian di wilayah tropis, karena itu domain pesawat jet tempur. Kendati demikian, kedua ahli ini sepakat kebenaran analisa yang jitu tetap dibuktikan dengan data rekaman di black box atau kotak hitam pesawat.
Badan Investigasi Kecelakaan Prancis atau BEA pada hari ini (2/1/2014) dijadwalkan tiba di area pencarian pesawat AirAsia QZ8501 untuk mencari kotak hitam. Pakar dari Prancis turut dilibatkan, karena perusahaan pesawat Airbus 320-200 itu berbasis di Prancis.
(mas)