Marty: Lawan ISIS Tak Bisa Hanya Andalkan Kekuatan
Jum'at, 26 September 2014 - 17:14 WIB
Marty: Lawan ISIS Tak Bisa Hanya Andalkan Kekuatan
A
A
A
NEW YORK - Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa menyatakan, untuk mengalahkan ISIS dibutuhkan sebuah usaha yang komperhensif. Perlawanan dengan menggunakan Hard Power ditakutkan hanya akan menambah masalah baru.
"Secara prinsip, pemerintah Indonesia mendukung upaya-upaya untuk mengatasi ancaman ini. Namun, upaya-upaya ini harus bersifat komprehensif, tidak dengan kekuatan semata,” ungkap Marty, kepada wartawan di New York, seperti dikutip dai situs Sekertaris Kabinet (Setkab).
Marty menggarisbawahi, bahwa upaya-upaya menyelesaikan berkembangnya paham radikal yang disebar ISIS dengan hanya menggunakan kekerasan semata tidak akan bersifat permanen, karena kemungkinan besar akan menciptakan masalah-masalah baru.
"Kita tidak menginginkan adanya siklus kekerasan yang akan berakibat pada kerugian yang dialami masyarakat biasa," tegas Marty. Di kesempatan yang sama, Marty juga turut menegaskan, bahwa pemerintah Indonesia menolak dengan bahasa paling keras keberadaan ISIS.
Pernyataan Marty tersebut merupakan penegasan dari apa yang pernah disampaikan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat memberikan pidato di Akademi Militer Amerika Serikat West Point.
Dalam pidatonya SBY mengatakan, saat ini militer tidak bisa bekerja sendiri untuk melawan terorisme, namun harus berkoordinasi dengan banyak pihak, seperti diplomat, pemuka agama bahkan politisi.
"Secara prinsip, pemerintah Indonesia mendukung upaya-upaya untuk mengatasi ancaman ini. Namun, upaya-upaya ini harus bersifat komprehensif, tidak dengan kekuatan semata,” ungkap Marty, kepada wartawan di New York, seperti dikutip dai situs Sekertaris Kabinet (Setkab).
Marty menggarisbawahi, bahwa upaya-upaya menyelesaikan berkembangnya paham radikal yang disebar ISIS dengan hanya menggunakan kekerasan semata tidak akan bersifat permanen, karena kemungkinan besar akan menciptakan masalah-masalah baru.
"Kita tidak menginginkan adanya siklus kekerasan yang akan berakibat pada kerugian yang dialami masyarakat biasa," tegas Marty. Di kesempatan yang sama, Marty juga turut menegaskan, bahwa pemerintah Indonesia menolak dengan bahasa paling keras keberadaan ISIS.
Pernyataan Marty tersebut merupakan penegasan dari apa yang pernah disampaikan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat memberikan pidato di Akademi Militer Amerika Serikat West Point.
Dalam pidatonya SBY mengatakan, saat ini militer tidak bisa bekerja sendiri untuk melawan terorisme, namun harus berkoordinasi dengan banyak pihak, seperti diplomat, pemuka agama bahkan politisi.
(esn)