Dipenggal ISIS, Keluarga Sebut Sotloff Bukan Pahlawan
Kamis, 04 September 2014 - 09:10 WIB
Dipenggal ISIS, Keluarga Sebut Sotloff Bukan Pahlawan
A
A
A
WASHINGTON - Meski nyawa jurnalis Steven Sotloff melayang karena dipenggal algojo ISIS, pihak keluarga menyebut Sotloff bukan pahlawan.
Pihak keluarga menganggap Sotloff hanya jurnalis yang mengorbankan hidupnya demi menyampaikan adanya penderitaan orang-orang di dunia.
Jurnalis Amerika Serikat berusia 31 tahun itu memang tetarik untuk meliput di daerah konflik. ”Karena ia tidak bisa tinggal diam ketika ada penderitaan yang melingkupi isi dunia,” kata juru bicara keluarga Sotloff, Barak Barfi. (Baca: ISIS Penggal Jurnalis Kedua Amerika Steven Sotloff)
Menurut Barfi, Sotloff selalu tertarik dengan pesona dunia Arab, sehingga dia melangkahkan kakinya ke Suriah sampai akhirnya diculik militan ISIS dan dipenggal. ”Dia bukan pecandu perang. Ia hanya ingin memberikan suara kepada mereka yang tidak punya,” lanjut Barfi.
Ayah Sotloff yang dirundung duka, tidak kuasa berbicara kepada media. Dia hanya memegang dan memandangi foto Sotloff.
”Dari dokter Libya yang berjuang memberika layanan psikologis bagi anak-anak korban perang. Tukang ledeng Suriah yang mempertaruhkan hidupnya dengan menyeberangi pasukan rezim untuk membeli obat-obatan. Kisah mereka adalah kisah Steve,” lanjut Barfi
”Dia akhirnya mengorbankan hidupnya untuk membawa kisah mereka kepada dunia. Sotloff bukan pahlawan,” imbuh Barfi. (Baca juga: Steven Sotloff Dipenggal, Obama Sumpah Hancurkan ISIS)
"Seperti kita semua, dia adalah seorang manusia biasa yang mencoba untuk menemukan sisi baik yang tersembunyi di dalam dunia yang gelap dan jika itu tidak ada ia mencoba untuk menciptakannya,” sambung Barfi, seperti dikutip AFP, Kamis (4/9/2014).
Pihak keluarga menganggap Sotloff hanya jurnalis yang mengorbankan hidupnya demi menyampaikan adanya penderitaan orang-orang di dunia.
Jurnalis Amerika Serikat berusia 31 tahun itu memang tetarik untuk meliput di daerah konflik. ”Karena ia tidak bisa tinggal diam ketika ada penderitaan yang melingkupi isi dunia,” kata juru bicara keluarga Sotloff, Barak Barfi. (Baca: ISIS Penggal Jurnalis Kedua Amerika Steven Sotloff)
Menurut Barfi, Sotloff selalu tertarik dengan pesona dunia Arab, sehingga dia melangkahkan kakinya ke Suriah sampai akhirnya diculik militan ISIS dan dipenggal. ”Dia bukan pecandu perang. Ia hanya ingin memberikan suara kepada mereka yang tidak punya,” lanjut Barfi.
Ayah Sotloff yang dirundung duka, tidak kuasa berbicara kepada media. Dia hanya memegang dan memandangi foto Sotloff.
”Dari dokter Libya yang berjuang memberika layanan psikologis bagi anak-anak korban perang. Tukang ledeng Suriah yang mempertaruhkan hidupnya dengan menyeberangi pasukan rezim untuk membeli obat-obatan. Kisah mereka adalah kisah Steve,” lanjut Barfi
”Dia akhirnya mengorbankan hidupnya untuk membawa kisah mereka kepada dunia. Sotloff bukan pahlawan,” imbuh Barfi. (Baca juga: Steven Sotloff Dipenggal, Obama Sumpah Hancurkan ISIS)
"Seperti kita semua, dia adalah seorang manusia biasa yang mencoba untuk menemukan sisi baik yang tersembunyi di dalam dunia yang gelap dan jika itu tidak ada ia mencoba untuk menciptakannya,” sambung Barfi, seperti dikutip AFP, Kamis (4/9/2014).
(mas)