Ingin Perang Darat, 30 Ribu Pasukan Cadangan Israel Siaga
Jum'at, 11 Juli 2014 - 10:33 WIB
Ingin Perang Darat, 30 Ribu Pasukan Cadangan Israel Siaga
A
A
A
TEL AVIV - Pemerintah Israel menyatakan sudah menyiagakan 30 ribu pasukan cadangan. Langkah itu menyusul kebijakan Israel yang ingin melakukan perang darat di Jalur Gaza, Palestina.
”Kami memanfaatkan kekuatan yang memungkinkan kita untuk menciptakan kekuatan besar di sekitar Gaza. Jika diperlukan, kami dapat memobilisasi (ribuan pasukan) sesegera mungkin,” kata juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Peter Lerner kepada CNN, Jumat (11/7/2014).
Kabinet Israel sendiri telah resmi menyetujui untuk mengerahkan 40 ribu pasukan cadanangan jika diperlukan untuk melakukan operasi darat di Jalur Gaza. Jumlah itu lebih banyak ketika Israel menyerang Jalur Gaza pada November 2012. (Baca: Abbas: Perang Darat Israel di Gaza Beberapa Jam Lagi)
Juru bicara pemerintah Israel, Mark Regev, mengatakan beberapa unit militer sudah dikerahkan. ”Kami sudah siap untuk pergi, jika kita harus pergi,” ujarnya.Regev mengatakan Israel tidak ingin situasi di mana Hamas diberi "batas waktu" untuk berkumpu sebelum serangan dimulai.
Sementara itu, suasana di Jalur Gaza semakin mencekam, setelah Israel semakin gencar menyuarakan kebijakan perang darat. Banyak warga di Jalur Gaza tidak memiliki tempat untuk mengungsi dan berlindung.
”Saya tidak bisa pergi. Saya tidak punya tempat untuk pergi. Lebih baik tinggal di rumah, di dalam dan aman,” kata seorang warga Kota Bait Hanoun, Jalur Gaza, kepada CNN. Namun, banyak bangunan rumah di Jalur Gaza, sebenarnya tidak aman, sebab dinding-dinding rumah mereka bisa ditembus peluru.
Tidak hanya warga Jalur Gaza yang cemas. Warga asing yang ada di wilayah itu juga sudah tidak betah. ”Saya sudah menunggu tiga hari di (sekitar) Rafah sejak serangan udara (Israel) dimulai,” kata pria keturunan Kanada-Palestina, yang berbicara dalam kondisi anonim.
”Saya ingin meninggalkan (Gaza). Situasi di sini berbahaya, tetapi Mesir tidak membuka perbatasan sampai hari ini, dan saya sudah menunggu di sini selama tiga jam. Saya harus pergi,” lanjut dia.
”Kami memanfaatkan kekuatan yang memungkinkan kita untuk menciptakan kekuatan besar di sekitar Gaza. Jika diperlukan, kami dapat memobilisasi (ribuan pasukan) sesegera mungkin,” kata juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Peter Lerner kepada CNN, Jumat (11/7/2014).
Kabinet Israel sendiri telah resmi menyetujui untuk mengerahkan 40 ribu pasukan cadanangan jika diperlukan untuk melakukan operasi darat di Jalur Gaza. Jumlah itu lebih banyak ketika Israel menyerang Jalur Gaza pada November 2012. (Baca: Abbas: Perang Darat Israel di Gaza Beberapa Jam Lagi)
Juru bicara pemerintah Israel, Mark Regev, mengatakan beberapa unit militer sudah dikerahkan. ”Kami sudah siap untuk pergi, jika kita harus pergi,” ujarnya.Regev mengatakan Israel tidak ingin situasi di mana Hamas diberi "batas waktu" untuk berkumpu sebelum serangan dimulai.
Sementara itu, suasana di Jalur Gaza semakin mencekam, setelah Israel semakin gencar menyuarakan kebijakan perang darat. Banyak warga di Jalur Gaza tidak memiliki tempat untuk mengungsi dan berlindung.
”Saya tidak bisa pergi. Saya tidak punya tempat untuk pergi. Lebih baik tinggal di rumah, di dalam dan aman,” kata seorang warga Kota Bait Hanoun, Jalur Gaza, kepada CNN. Namun, banyak bangunan rumah di Jalur Gaza, sebenarnya tidak aman, sebab dinding-dinding rumah mereka bisa ditembus peluru.
Tidak hanya warga Jalur Gaza yang cemas. Warga asing yang ada di wilayah itu juga sudah tidak betah. ”Saya sudah menunggu tiga hari di (sekitar) Rafah sejak serangan udara (Israel) dimulai,” kata pria keturunan Kanada-Palestina, yang berbicara dalam kondisi anonim.
”Saya ingin meninggalkan (Gaza). Situasi di sini berbahaya, tetapi Mesir tidak membuka perbatasan sampai hari ini, dan saya sudah menunggu di sini selama tiga jam. Saya harus pergi,” lanjut dia.
(mas)