Banyak Warga Sipil Tewas, Rusia Desak UE Hukum Ukraina
Senin, 07 Juli 2014 - 20:49 WIB
Banyak Warga Sipil Tewas, Rusia Desak UE Hukum Ukraina
A
A
A
MOSKOW - Banyaknya korban dari pihak sipil yang jatuh saat pasukan Ukraina melakukan penyerangan di timur Ukraina membuat Rusia geram. Mereka menuntut Uni Eropa (UE) untuk memberikan respon atas kejadian itu.
Melansir Reuters, Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak UE untuk menegur Ukraina atau setidaknya memberikan respon atas banyaknya warga sipil yang tewas dalam pertempuran di timur Ukraina.
“Sekali lagi, ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Kami menuntut penghentian penggunaan kekuatan militer di timur Ukraina. Kiev terlihat seperti orang tuli yang tidak mendengarkan teriakan warga sipil yang menjadi korban,” ungkap kementerian itu melalui sebuah pernyataan.
"Kami berharap, dalam hal ini UE memerikan respon yang memadai, dan negara-negara Eropa yang tergabung dalam UE untuk mengecam kebijakan kriminal dari pihak berwenang Kiev," kementerian itu menambahkan.
Pemerintah Rusia sebelumnya menyatakan, dari 80 korban, baik korban luka ataupun korban tewas saat terjadi penyerangan di Slavyansk akhir pekan lalu, lebih dari setengahnya adalah warga sipil yang tidak bersalah.
Melansir Reuters, Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak UE untuk menegur Ukraina atau setidaknya memberikan respon atas banyaknya warga sipil yang tewas dalam pertempuran di timur Ukraina.
“Sekali lagi, ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Kami menuntut penghentian penggunaan kekuatan militer di timur Ukraina. Kiev terlihat seperti orang tuli yang tidak mendengarkan teriakan warga sipil yang menjadi korban,” ungkap kementerian itu melalui sebuah pernyataan.
"Kami berharap, dalam hal ini UE memerikan respon yang memadai, dan negara-negara Eropa yang tergabung dalam UE untuk mengecam kebijakan kriminal dari pihak berwenang Kiev," kementerian itu menambahkan.
Pemerintah Rusia sebelumnya menyatakan, dari 80 korban, baik korban luka ataupun korban tewas saat terjadi penyerangan di Slavyansk akhir pekan lalu, lebih dari setengahnya adalah warga sipil yang tidak bersalah.
(esn)