Inggris Sempat Ingin Latih Pemberontak Suriah
Jum'at, 04 Juli 2014 - 15:52 WIB
Inggris Sempat Ingin Latih Pemberontak Suriah
A
A
A
LONDON - Pemerintah Inggris dikabarkan sempat berencana untuk ikut melatih pemberontak Suriah, seperti yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat (AS). Namun, rencana itu akhirnya dibatalkan, karena terlalu beresiko.
Melansir AL Arabiya, Jumat (4/7/2014), rencana itu diduga akan dilaksanakan dua tahun lalu oleh pemerintah Inggris. Proposal untuk melakukan pelatihan tersebut dikabarkan diajukan oleh Jenderal David Richards, mantan Kepala Pertahanan Inggris.
“Proposal yang diterima oleh Perdana Menteri David Cameron dan Dewan Keamanan Nasional, serta para pejabat AS, meliputi pemberian perlengkapan dan pelatihan. Rencananya para pemberontak Suriah akan dilatih di pangkalan di Turki dan Yordania,” ungkap salah seorang sumber di Whitehall dalam kondisi anonim.
"Kami telah kehilangan kesempatan untuk melatih pasukan anti-Assad yang akan memiliki pengaruh yang nyata di Suriah, ketika ia (Assad) berhasil dilengserkan,” ungkap Profesor Michael Clarke, dari Royal United Services Institute.
"Saya pikir kami memiliki kesempatan dua atau tiga tahun yang lalu untuk terlibat dalam cara yang cukup positif, tapi hal itu sangat berbahaya dan biaya yang dibutuhkan juga sangatlah tinggi,” Clarke menambahkan.
Melansir AL Arabiya, Jumat (4/7/2014), rencana itu diduga akan dilaksanakan dua tahun lalu oleh pemerintah Inggris. Proposal untuk melakukan pelatihan tersebut dikabarkan diajukan oleh Jenderal David Richards, mantan Kepala Pertahanan Inggris.
“Proposal yang diterima oleh Perdana Menteri David Cameron dan Dewan Keamanan Nasional, serta para pejabat AS, meliputi pemberian perlengkapan dan pelatihan. Rencananya para pemberontak Suriah akan dilatih di pangkalan di Turki dan Yordania,” ungkap salah seorang sumber di Whitehall dalam kondisi anonim.
"Kami telah kehilangan kesempatan untuk melatih pasukan anti-Assad yang akan memiliki pengaruh yang nyata di Suriah, ketika ia (Assad) berhasil dilengserkan,” ungkap Profesor Michael Clarke, dari Royal United Services Institute.
"Saya pikir kami memiliki kesempatan dua atau tiga tahun yang lalu untuk terlibat dalam cara yang cukup positif, tapi hal itu sangat berbahaya dan biaya yang dibutuhkan juga sangatlah tinggi,” Clarke menambahkan.
(esn)