Ukraina dan Dua Eks-Soviet Merapat ke Uni Eropa, Rusia Geram
Jum'at, 27 Juni 2014 - 19:21 WIB
Ukraina dan Dua Eks-Soviet Merapat ke Uni Eropa, Rusia Geram
A
A
A
BRUSSELS - Ukraina pada Jumat (27/6/2014) mencetak sejarah dengan menandatangani perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Selain Ukraina, dua negara pecahan Uni Soviet, Georgia dan Moldova juga melakukan hal serupa.
Rusia geram dengan hal itu, dan menyebut kesepakatan itu akan menimbulkan konsekuensi serius. Rusia geram, karena khawatir Moskow akan kehilangan pengaruh terhadap negara-negara bekas Uni Soviet.
Seruan rakyat Ukraina agar bergabung dengan Uni Eropa sebenarnya sudah muncul sejak Ukraina dipimpin Victor Yanukovych.Namun, Yanukovych yang merupakan tokoh pro-Rusia itu menolak tuntutan rakyatnya dan berujung pada krisis yang membuatnya digulingkan.
Setelah Ukraina dipimpin presiden baru, yakni Petro Poroshenko, negara itu kini merapat ke Uni Eropa.
"Selama sebulan terakhir, Ukraina membayar tertinggi harga untuk membuat impian jadi bagian dari Eropa yang sekarang menjadi kenyataan,” kata Poroshenko saat upacaa penandatanganan di Brussels.Dia menyebut hal itu sebagai sejarah penting Ukraina sejak merdeka dari Uni Soviet 1991.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Grigory Karasin, merespon cepat tindakan Ukraina dan dua negara bekas Soviet tersebut.”Itu akan memiliki konsekuensi serius terhadap Ukraina, “ katanya kepada Interfax.
Namun, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan, komentar Glazyev itu tidak mencerminkan sikap resmi Rusia. Kendati demikian, lanjut Peskov, Rusia akan mengambil langkah-langkah untuk melindungi ekonominya setelah ada perjanjian itu.
Rusia geram dengan hal itu, dan menyebut kesepakatan itu akan menimbulkan konsekuensi serius. Rusia geram, karena khawatir Moskow akan kehilangan pengaruh terhadap negara-negara bekas Uni Soviet.
Seruan rakyat Ukraina agar bergabung dengan Uni Eropa sebenarnya sudah muncul sejak Ukraina dipimpin Victor Yanukovych.Namun, Yanukovych yang merupakan tokoh pro-Rusia itu menolak tuntutan rakyatnya dan berujung pada krisis yang membuatnya digulingkan.
Setelah Ukraina dipimpin presiden baru, yakni Petro Poroshenko, negara itu kini merapat ke Uni Eropa.
"Selama sebulan terakhir, Ukraina membayar tertinggi harga untuk membuat impian jadi bagian dari Eropa yang sekarang menjadi kenyataan,” kata Poroshenko saat upacaa penandatanganan di Brussels.Dia menyebut hal itu sebagai sejarah penting Ukraina sejak merdeka dari Uni Soviet 1991.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Grigory Karasin, merespon cepat tindakan Ukraina dan dua negara bekas Soviet tersebut.”Itu akan memiliki konsekuensi serius terhadap Ukraina, “ katanya kepada Interfax.
Namun, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan, komentar Glazyev itu tidak mencerminkan sikap resmi Rusia. Kendati demikian, lanjut Peskov, Rusia akan mengambil langkah-langkah untuk melindungi ekonominya setelah ada perjanjian itu.
(mas)