CIA Tahu Rencana Teror ISIS di Irak tapi Tak Berdaya
Selasa, 24 Juni 2014 - 08:44 WIB
CIA Tahu Rencana Teror ISIS di Irak tapi Tak Berdaya
A
A
A
LONDON - Sebuah laporan rahasia muncul tentang rencana teror besar-besaran dari kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Irak yang diketahui CIA dan M16. Namun, badan intelijen Amerika Serikat (AS) dan Inggris itu tidak berdaya untuk mencegah.
CIA dan M16 sudah tahu rencana serangan besar-besaran untuk mengacaukan Irak beberapa bulan sebelum ISIS beraksi. Laporan rahasia itu dirilis Telegraph yang bersumber dari badan intelijen Kurdi.
“Kawasan teritorial di Irak, dan seluruh perbatasan yang terdiri dari perbatasan dengan Suriah dan Yordania, sekarang di luar kendali pemerintah Irak,” kata seorang pejabat Kurdi yang memperingatkan bahwa ISIS merekrut orang-orang dari luar Timur Tengah.
Perwira intelijen Kurdi, Rooz Bahjat mengatakan bahwa dari 4 ribu orang asing diperkirakan berjuang bersama ISIS. Dari jumlah itu, sekitar 400 hingga 450 merupakan warga Inggris. Bahjat membenarkan, kelompok ISIS telah beraliansi dengan para mantan pejabat partai Baath, partai yang pernah berkuasa di Irak saat Saddam Hussein menjadi pemimpin negara itu. (Baca: Menengok Rezim Saddam Hussein di Tubuh ISIS)
”Kami memiliki informasi ini kemudian, dan kami memberikannya kepada pemerintah (Inggris) dan pemerintah AS,” kata Bahjat kepada Telegraph. ”Kami tahu persis strategi apa yang mereka gunakan, kami tahu rencana militer mereka. Tapi seolah-olah (CIA dan M16) tuli,” ujarnya Selasa (24/6/2014) menyindir intelijen AS dan Inggris yang tidak bereaksi meski sudah diberitahu informasi penting itu.
Sementara itu, Presiden AS, Barack Obama dalam wawancara dengan CBS News, bahwa ISIS menjadi ancaman jangka menengah dan panjang bagi keamanan nasional AS.”Itu adalah hanya salah satu dari sejumlah organisasi yang harus kita waspadai,” katanya.
CIA dan M16 sudah tahu rencana serangan besar-besaran untuk mengacaukan Irak beberapa bulan sebelum ISIS beraksi. Laporan rahasia itu dirilis Telegraph yang bersumber dari badan intelijen Kurdi.
“Kawasan teritorial di Irak, dan seluruh perbatasan yang terdiri dari perbatasan dengan Suriah dan Yordania, sekarang di luar kendali pemerintah Irak,” kata seorang pejabat Kurdi yang memperingatkan bahwa ISIS merekrut orang-orang dari luar Timur Tengah.
Perwira intelijen Kurdi, Rooz Bahjat mengatakan bahwa dari 4 ribu orang asing diperkirakan berjuang bersama ISIS. Dari jumlah itu, sekitar 400 hingga 450 merupakan warga Inggris. Bahjat membenarkan, kelompok ISIS telah beraliansi dengan para mantan pejabat partai Baath, partai yang pernah berkuasa di Irak saat Saddam Hussein menjadi pemimpin negara itu. (Baca: Menengok Rezim Saddam Hussein di Tubuh ISIS)
”Kami memiliki informasi ini kemudian, dan kami memberikannya kepada pemerintah (Inggris) dan pemerintah AS,” kata Bahjat kepada Telegraph. ”Kami tahu persis strategi apa yang mereka gunakan, kami tahu rencana militer mereka. Tapi seolah-olah (CIA dan M16) tuli,” ujarnya Selasa (24/6/2014) menyindir intelijen AS dan Inggris yang tidak bereaksi meski sudah diberitahu informasi penting itu.
Sementara itu, Presiden AS, Barack Obama dalam wawancara dengan CBS News, bahwa ISIS menjadi ancaman jangka menengah dan panjang bagi keamanan nasional AS.”Itu adalah hanya salah satu dari sejumlah organisasi yang harus kita waspadai,” katanya.
(mas)