Pernah Sadap SBY, Australia Tegaskan Tolak Minta Maaf
Senin, 09 Juni 2014 - 10:48 WIB
Pernah Sadap SBY, Australia Tegaskan Tolak Minta Maaf
A
A
A
CANBERRA - Pemerintah Australia menegaskan, tidak akan pernah meminta maaf atas tindakan intelijen dalam melakukan penyadapan, sebagai bagian dari operasi spionase. Hal itu, juga berlaku terhadap kasus penyadapan intelijen Australia terhadap ponsel Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa tahun lalu.
Penegasan bahwa Australia tidak akan pernah meminta maaf itu disampaikan Perdana Menteri Tony Abbott. Komentar Abbott itu, sekaligus kritik terhadap Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, yang meminta maaf kepada Kanselir Jerman, Angela Merkel, setelah aksi intelijen AS menyadap ponsel Merkel dibocorkan bekas kontraktor NSA, Edward Joseph Snowden, 30.
Australia sendiri masuk dalam kelompok “Lima Mata”. Yakni, kelompok intelijen global yang terdiri dari intelijen AS, Australia, Kanada, Inggris dan Selandia Baru.
”Tentu intelijen kami harus melakukan (kerjanya) dengan cara yang layak, adil dan yang tidak mengkhianati nilai-nilai fundamental yang kita lakukan,” kata Abbott,” seperti dikutip news.com.au, Senin (9/6/2014).
”Tapi kita harus tidak pernah meminta maaf atas apa yang dilakukan untuk melindungi diri kita sendiri, dan untuk membantu teman-teman kita. Dan itulah yang diatur (kelompok intelijen) ‘Lima Mata’ dalam operasinya,” lanjut Abbott.
Komentar Abbott itu muncul sebelum pertemuannya dengan Obama beberapa hari lagi, dan setelah pertemuannya dengan Presiden SBY di Batam, pekan lalu. Abbott sebelumnya juga telah menolak untuk meminta maaf kepada Presiden SBY atas bocornya data yang menyebut intelijen Australia pernah menyadap ponsel SBY, istri dan para pejabat tinggi Indonesia.
Dalam pertemuan dengan SBY pekan lalu, Abbott sejatinya mencurahkan kecemasannya, bahwa banyak warga Australia yang pergi ke Suriah untuk ikut berperang melawan pasukan Presiden Bashar al-Assad. Dia cemas, jika para militan radikal itu pulang ke negaranya akan membuat ulah.
Penegasan bahwa Australia tidak akan pernah meminta maaf itu disampaikan Perdana Menteri Tony Abbott. Komentar Abbott itu, sekaligus kritik terhadap Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, yang meminta maaf kepada Kanselir Jerman, Angela Merkel, setelah aksi intelijen AS menyadap ponsel Merkel dibocorkan bekas kontraktor NSA, Edward Joseph Snowden, 30.
Australia sendiri masuk dalam kelompok “Lima Mata”. Yakni, kelompok intelijen global yang terdiri dari intelijen AS, Australia, Kanada, Inggris dan Selandia Baru.
”Tentu intelijen kami harus melakukan (kerjanya) dengan cara yang layak, adil dan yang tidak mengkhianati nilai-nilai fundamental yang kita lakukan,” kata Abbott,” seperti dikutip news.com.au, Senin (9/6/2014).
”Tapi kita harus tidak pernah meminta maaf atas apa yang dilakukan untuk melindungi diri kita sendiri, dan untuk membantu teman-teman kita. Dan itulah yang diatur (kelompok intelijen) ‘Lima Mata’ dalam operasinya,” lanjut Abbott.
Komentar Abbott itu muncul sebelum pertemuannya dengan Obama beberapa hari lagi, dan setelah pertemuannya dengan Presiden SBY di Batam, pekan lalu. Abbott sebelumnya juga telah menolak untuk meminta maaf kepada Presiden SBY atas bocornya data yang menyebut intelijen Australia pernah menyadap ponsel SBY, istri dan para pejabat tinggi Indonesia.
Dalam pertemuan dengan SBY pekan lalu, Abbott sejatinya mencurahkan kecemasannya, bahwa banyak warga Australia yang pergi ke Suriah untuk ikut berperang melawan pasukan Presiden Bashar al-Assad. Dia cemas, jika para militan radikal itu pulang ke negaranya akan membuat ulah.
(mas)