Lagi, China menentang sanksi baru AS terhadap Rusia
Kamis, 08 Mei 2014 - 13:55 WIB
Lagi, China menentang sanksi baru AS terhadap Rusia
A
A
A
Sindonews.com - PihakBeijing kembali menentang rencana penjatuhan sanksi tambahan yang lebih keras dari Washington kepada Moskow. Menurut pihak China, sanksi dengan dalih apa pun tidak dibenarkan dalam hubungan internasional.
Reaksi China yang menjadi oposisi dalam rencana penjatuhan sanksi Amerika Serikat kepada Rusia itu bukan sekali ini saja. Pada 28 April 2014 lalu, China juga menentang kelompok G-7 yang ingin menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. (Baca: China tolak sanksi untuk Rusia)
Rencana sanksi baru yang lebih keras dari Amerika Serikat (AS) kepada Rusia diserukan para senator AS. Ancaman terbaru itu diklaim untuk “menampar” Rusia yang mendukung referendum kemerdekan kelompok separatis pro-Moskow di Ukrana timur.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying mengecam rencana penjatuhan sanksi yang lebih keras itu kepada Rusia. ”Kami sangat prihatin dengan situasi saat ini di Ukraina. China secara tegas menentang penggunaan sanksi dengan dalih apa pun dalam setiap hubungan internasional,” katanya, Rabu (7/5/2014) kemarin.
China seperti dilaporkan Itar-Tass, menyerukan kepada semua pihak untuk tetap tenang dan bersikap moderat dalam menilai konflik di Ukraina.
”Kami percaya dialog politik harus sesegera mungkin digelar untuk segera meredakan ketegangan (di Ukraina timur) sesuai dengan perjanjian Jenewa dan menahan diri dari setiap tindakan yang akan memicu ketegangan,” ujar Chunying.
Para senator AS mendesak Obama untuk menjatuhkan sanksi yang lebih keras terhadap Rusia, karena dua alasan. Pertama, Rusia mendukung referendum kemerdekaan kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk, Ukraina timur. Kedua mengerahkan pasukan khusus ke Ukraina timur untuk mendukung kelompok separatis pro-Moskow.
Sekretaris Jenderal Ban Ki -moon telah mendesak Rusia, Ukraina, Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk kembali ke meja perundingan guna mencari tahu mengapa perjanjian Jenewa yang disepakati pada tanggal 17 April 2014 gagal dilaksanakan.
Reaksi China yang menjadi oposisi dalam rencana penjatuhan sanksi Amerika Serikat kepada Rusia itu bukan sekali ini saja. Pada 28 April 2014 lalu, China juga menentang kelompok G-7 yang ingin menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. (Baca: China tolak sanksi untuk Rusia)
Rencana sanksi baru yang lebih keras dari Amerika Serikat (AS) kepada Rusia diserukan para senator AS. Ancaman terbaru itu diklaim untuk “menampar” Rusia yang mendukung referendum kemerdekan kelompok separatis pro-Moskow di Ukrana timur.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying mengecam rencana penjatuhan sanksi yang lebih keras itu kepada Rusia. ”Kami sangat prihatin dengan situasi saat ini di Ukraina. China secara tegas menentang penggunaan sanksi dengan dalih apa pun dalam setiap hubungan internasional,” katanya, Rabu (7/5/2014) kemarin.
China seperti dilaporkan Itar-Tass, menyerukan kepada semua pihak untuk tetap tenang dan bersikap moderat dalam menilai konflik di Ukraina.
”Kami percaya dialog politik harus sesegera mungkin digelar untuk segera meredakan ketegangan (di Ukraina timur) sesuai dengan perjanjian Jenewa dan menahan diri dari setiap tindakan yang akan memicu ketegangan,” ujar Chunying.
Para senator AS mendesak Obama untuk menjatuhkan sanksi yang lebih keras terhadap Rusia, karena dua alasan. Pertama, Rusia mendukung referendum kemerdekaan kelompok separatis di Donetsk dan Luhansk, Ukraina timur. Kedua mengerahkan pasukan khusus ke Ukraina timur untuk mendukung kelompok separatis pro-Moskow.
Sekretaris Jenderal Ban Ki -moon telah mendesak Rusia, Ukraina, Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk kembali ke meja perundingan guna mencari tahu mengapa perjanjian Jenewa yang disepakati pada tanggal 17 April 2014 gagal dilaksanakan.
(mas)