Jadi tameng Eropa timur, NATO & Rusia bersitegang
Kamis, 03 April 2014 - 16:29 WIB
Jadi tameng Eropa timur, NATO & Rusia bersitegang
A
A
A
Sindonews.com –Keputusan NATO yang bakal memperkuat negara-negara Eropa timur dengan pasukan militernya, memicu ketegangan kembali dengan Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menuntut penjelasan NATO atas kebijakan militer NATO yang menjadi tameng bagi Eropa timur.
NATO telah berjanji memperkuat negara-negara anggotanya di Eropa timur dengan kekuatan militer setelah Rusia mencaplok Crimea dari Ukraina.
Ketegangan itu menjadi krisis terburuk antara negara kawasan Timur yang didominasi Rusia dengan negara kawasan Barat yang didominasi NATO dan Amerika Serikat.
”Kami telah membahas (dan mengajukan) pertanyaan kepada militer NATO. Kami tidak hanya mengharapkan jawaban (biasa), tapi jawaban yang akan didasarkan sepenuhnya pada penghormatan terhadap aturan yang kita sepakati,” ujarnya, seperti dikutip Reuters, Kamis (3/4/2014).
Lavrov mengatakan hal itu kepada wartawan pada saat briefing dengan Menteri Luar Negeri Kazakhtan. Rusia kemarin mengkritik keras NATO yang menghentikan kerjasama militer dengan Rusia. Pihak Moskow menyebut, pengumuman NATO yang menghentikan kerjasama itu menggunakan gaya bahasa mirip era Perang Dingin.
Para menteri luar negeri negara-negara NATO sudah kompak memutuskan bahwa NATO akan memperkuat pertahanan negara-negara Eropa timur. Kebijakan itu muncul, setelah Rusia menganeksasi Crimea dari Ukraina.
Sementara itu, menanggapi kritik atas pengerahan pasukan Rusia di sepanjang perbatasan dengan Ukraina, Lavrov mengatakan bahwa Rusia memiliki hak untuk menempatkan pasukannya di mana saja, selama itu di wilayah negaranya.
NATO telah berjanji memperkuat negara-negara anggotanya di Eropa timur dengan kekuatan militer setelah Rusia mencaplok Crimea dari Ukraina.
Ketegangan itu menjadi krisis terburuk antara negara kawasan Timur yang didominasi Rusia dengan negara kawasan Barat yang didominasi NATO dan Amerika Serikat.
”Kami telah membahas (dan mengajukan) pertanyaan kepada militer NATO. Kami tidak hanya mengharapkan jawaban (biasa), tapi jawaban yang akan didasarkan sepenuhnya pada penghormatan terhadap aturan yang kita sepakati,” ujarnya, seperti dikutip Reuters, Kamis (3/4/2014).
Lavrov mengatakan hal itu kepada wartawan pada saat briefing dengan Menteri Luar Negeri Kazakhtan. Rusia kemarin mengkritik keras NATO yang menghentikan kerjasama militer dengan Rusia. Pihak Moskow menyebut, pengumuman NATO yang menghentikan kerjasama itu menggunakan gaya bahasa mirip era Perang Dingin.
Para menteri luar negeri negara-negara NATO sudah kompak memutuskan bahwa NATO akan memperkuat pertahanan negara-negara Eropa timur. Kebijakan itu muncul, setelah Rusia menganeksasi Crimea dari Ukraina.
Sementara itu, menanggapi kritik atas pengerahan pasukan Rusia di sepanjang perbatasan dengan Ukraina, Lavrov mengatakan bahwa Rusia memiliki hak untuk menempatkan pasukannya di mana saja, selama itu di wilayah negaranya.
(mas)