Ahli Perancis: Terlalu dini untuk mulai pencarian bawah laut
Senin, 24 Maret 2014 - 23:59 WIB
Ahli Perancis: Terlalu dini untuk mulai pencarian bawah laut
A
A
A
Sindonews.com – Penyidik Perancis yang terlibat dalam pencarian pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 menyatakan, terlalu dini untuk mempertimbangkan pencarian bawah laut guna mencari reruntuhan MH370.
Pernyataan ini dilontarkan Layanan Investigasi Kecelakaan Perancis (BEA), setelah Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Razak, telah memastikan kalau MH370 jatuh di selatan Samudera Hindia.
“Luasnya daerah saat ini membuat tidak layak untuk melakukan pencarian bawah laut," sebut pernyataan BEA, Senin (24/3/2014). BEA sendiri telah mengirim tiga penyidik ke Kuala Lumpur untuk membantu pencarian MH370.
"Sebuah fase pencarian bawah laut untuk MH370 bisa dilakukan bila operasi yang berlangsung saat ini memungkinkan area pencarian lebih terbatas,” lanjut pernyataan BEA. Menurut badan yang berhasil menemukan puing pesawat Air France pada 2009 silam, lokasi kemungkinan jatuhnya MH370 masih sangat luas.
Butuh waktu 23 bulan bagi para penyidik BEA untuk menemukan reruntuhan pesawat Air France setelah pesawat itu jatuh di Samudera Atlantik pada 2009.
Pernyataan ini dilontarkan Layanan Investigasi Kecelakaan Perancis (BEA), setelah Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Razak, telah memastikan kalau MH370 jatuh di selatan Samudera Hindia.
“Luasnya daerah saat ini membuat tidak layak untuk melakukan pencarian bawah laut," sebut pernyataan BEA, Senin (24/3/2014). BEA sendiri telah mengirim tiga penyidik ke Kuala Lumpur untuk membantu pencarian MH370.
"Sebuah fase pencarian bawah laut untuk MH370 bisa dilakukan bila operasi yang berlangsung saat ini memungkinkan area pencarian lebih terbatas,” lanjut pernyataan BEA. Menurut badan yang berhasil menemukan puing pesawat Air France pada 2009 silam, lokasi kemungkinan jatuhnya MH370 masih sangat luas.
Butuh waktu 23 bulan bagi para penyidik BEA untuk menemukan reruntuhan pesawat Air France setelah pesawat itu jatuh di Samudera Atlantik pada 2009.
(esn)